Beranda

MEREKAM GAMBAR DAN SUARA PADA FILM 16 MM.

6 Komentar

Pada saat rekaman gambar baik di studio atau lokasi film, pimpinan kerabat kerja produksi film dipegang oleh Sutradara atau Pengarah Acara. Sutradara mengarahkan pemain dan dibantu kerabat kerja teknik seperti juru kamera, suara, penata lampu, make up, pencatat adegan juga penata artistik. Mereka bekerja bersama-sama sebagai team work dan tentu saja didukung oleh para pemain atau artis yang membintangi jalannya shooting film televisi.

Film televisi saat itu menggunakan sistem pengambilan gambar direct recording, yaitu suara langsung direkam di lokasi kejadian. Juru kamera mengambil gambar mengunakan kamera Arri BL, ST, SR sedangkan juru suara merekam suara dengan peralatan Nagra. Metode kerja dalam rekaman gambar film televisi saat itu adalah double sistem, dimana gambar dan suara terpisah tempatnya. Film menggunakan ukuran 16 mm sedangkan pita suara ukuran 1/4 inchi yang nantinya saat akan editing di studio, pita ini ditransfer ke format 16 mm.

Lagi

PERMEN KARET DI HARI MINGGU.

6 Komentar

Duapuluh satu tahun silam anak pertamaku mengajak jalan-jalan ke Mal di Bilangan Blog M pas hari Minggu seperti saat ini. Sehat dengan reiki saat itu sedang menyelesaikan pengetikan makalah untuk persiapan seminar kuliah Senin esoknya ketika anak permata merengek minta jalan-jalan di hari Minggu. Dalam kesempatan di hari libur kerja dan kuliah seperti hari Minggu ini akhirnya kami berangkat ke Blok M. Ini namanya sayang anak bukan?

Sambil menyaksikan kegembiraan anak saya berlari ke sana ke mari bersama teman sebaya di arena permainan anak-anak, seorang penjual minuman lewat dan menawarkan dagangannya. Yang dipilih anak saya bukan minuman atau makanan untuk dibeli tetapi permen karet. Memang di tahun 1989 permen karet menjadi permen kegemaran bagi orang tua maupun anak-anak. Di samping rasanya manis, kenyal dan enak berlama-lama dikulum, permen karet ini bisa menghilangkan rasa dahaga untuk sementara waktu.

Lagi

PROSESING FILM DAN EDITING FILM 16 MM

Tinggalkan komentar

Ketika shooting film usai tiba giliran Laboratorium Film memproses seluruh exposed film yang telah diserahkan Asisten Juru Kamera. Setiap reel film selalu ada catatan mengenai pemakaian asa film, day or night pengambilan gambar di lokasi shooting. Juga catatan ringkas isi adegan yang telah di shot. Semua catatan itu diperlukan petugas laboratorium film untuk menentukan final prosesing kelak ketika film sudah selesai diedit dan siap dibuatkan master print lengkap dengan titel, efek transisi gambar dan pencahayaan.

Bila pemakaian film reversal baik Kodak atau Fuji gambar langsung dapat dilihat ketika proses editing. Sedangkan bila memakai film negative dari kedua merk film itu maka prosesing film di editing melalui tahapan sebagai berikut ini:
1. Film hasil shooting lalu diproses negative lebih dulu (seperti klise pada foto).
2. Selesai proses negative film lalu dicetak menjadi positif sebagai bahan editing film. Film positif ini disebut work print atau rush copy karena dengan film inilah editor memotong dan menyambung film. Film ini boleh dicoret, dipotong lalu disambung kembali. Sementara master negative film tetap utuh dan akan dipotong-potong ketika proses editing selesai. Apabila editor memerlukan print ulang maka master negative inilah yang dicetak ulang dalam bentuk film positif. Disebut positif karena film ini belum dikoreksi pewarnaannya juga pencahayaan oleh petugas labortorium film.

Lagi