Beranda

TUKANG CUKUR MEMOTONG RAMBUT SISWA-SISWI SEKOLAH MENENGAH 35.

Tinggalkan komentar

Para guru di salah satu sekolah di China utara tak kehilangan akal saat peraturan tentang panjang-pendek rambut tidak dipatuhi oleh sebagian siswa mereka. Mereka mengundang beberapa tukang cukur ke sekolah. Tukang-tukang cukur itu memotong rambut siswa yang tidak mematuhi peraturan.

Mengutip koran setempat, laman Global Times, Rabu ( 27/2/2019 ), melaporkan, Sekolah Menengah 35 di Shijiazhuang, Provinsi Hebei, China, sebenarnya telah menetapkan peraturan sebelum semester musim semi bahwa para siswa harus mencukur rambut dengan potongan cepak. Adapun para siswi dilarang memanjangkan rambut melebihi bahu atau memiliki rambut poni hingga di bawah alis mata. Ternyata, sebagian siswa masih berambut panjang.

Lagi

LUCAN BATTISTON KENA SKORS SEKOLAHNYA.

Tinggalkan komentar

Pengadilan Wellington, Selandia Baru, pekan lalu, membatalkan keputusan pihak sekolah yang melarang siswa berambut gondrong untuk mengikuti kegiatan belajar.  Bulan lalu, Lucan Battiston ( 16 ) diskors oleh sekolahnya, St John’n College hanya gara-gara di berambut gondrong. Rambut gondrong jika dipelihara dengan rapi memang indah dilihat, akan tetapi jika pemiliknya tak merawat dengan baik rambutnya, orang lain pun akan risi melihat rambut gondrongnya itu.

Kepala St John College mengatakan, siswa sekolahnya harus berpenampilan rapi dengan rambut pendek dan rapi. Namun, Battiston beragumen, rambutnya yang ikal secara alami sulit ditata menurut aturan sekolah. Bukannya memotong rambutnya, Battiston dan keluarganya mengadukan keputusan sekolah ke pengadilan.

Lagi

FOTO PASPOR BAPAK ADA GAMBAR KUMIS.

4 Komentar

Punya anak cerdas dikala balita tentu menggemaskan apalagi jika si anak sudah menunjukkan aktivitasnya, misalnya suka corat coret di dinding rumah. Sekalipun coretan gambar itu terlihat kotor pada dinding rumah, orangtua anak tentu saja dengan senang akan menghapus coretan itu. Sebagai gantinya jika dia ada waktu luang akan membelikan buku tulis atau buku gambar, agar hobi corat coret si anak tersalurkan.

Namun jika si orangtua tidak juga mau membelikan buku gambar, anak akan melampiaskan hobinya corat coret ke sembarang buku. Ya, kalau buku gambar atau buku tulis tidak masalah,  tapi kalau yang dicorat coret adalah lembaran paspor sebagai dokumen sah seseorang  melakukan perjalanan lintas negara, tentu urusannya jadi lain. Anak  pun tentu belum tahu kegunaan paspor jika dia coret, apalagi jika foto diri pemilik paspor turut pula digambari sembarang lukisan.

Lagi