Beranda

BECAK TUA ITU DITINGGALKAN PEMILIKNYA.

Tinggalkan komentar

Kamis malam 3 September 2015 saya dapat khabar duka cita atas meninggalnya sahabat sekampung dari seorang teman. Dalam perbincangan esok harinya perihal berita duka cita itu, almarhum akan dimakamkan sehabis sholat Jumat, 4 September 2015 di  pemakaman kampung halaman almarhum. Tentu saja khabar dukacita ini sempat mengejutkan  tatkala saya sudah kembali ke Tangerang, di mana saat lebaran kemaren, almarhum sempat bertandang ke  rumah di Solo, sembari  meminta maaf atas salah dan khilaf selama ini.

Saya jawab bahwa almarhum tak bersalah selama dia menjalankan profesinya menarik becak. Namun almarhum tetap mengakui bahwa banyak salah dan kekurangan terhadap pelanggan yang memesan jasanya. Bahkan yang mengejutkan, almarhum mengutarakan ingin beristirahat sebentar dari rutinitas kerja mengingat fisik semakin tua dan saat ini ada gangguan kesehatan serius yang menimpa  tubuhnya.

Lagi

SENANG BERBELANJA DI PASAR TRADISIONAL.

6 Komentar

Jika ada kesempatan  ke daerah lagi, sebenarnya saya senang sekali mengunjungi pasar tradisional, apalagi kalau pasar tradisional itu ada di pedesaan. Selain mengenal dekat  transaksi jual beli di pasar tradisional yang masih guyup sesama pedagang dan pembeli, pasar tradisional juga meninggalkan kesan mendalam bagi warga pendatang yang baru pertama kali berkunjung ke daerah itu.  Sekalipun bentuk fisik bangunan pasar tradisional cukup sederhana, justru dengan kebersahajaan itu lah pasar tradisional memiliki keunggulan khas masyarakat tradisional Indonesia.

Saat berada di pasar tradisional sejatinya kita bisa melihat tawar menawar, sapaan yang akrab dan obrolan hangat sesama pedagang jika tidak sedang melayani pembeli. Misalnya, obrolan tentang siapa calon gubernur DKI mendatang jika Jokowi sudah tidak jadi gubernur lagi.  Atau saat  sedang melepaskan lelah, ada pedagang yang mendengarkan siaran sandiwara radio Serial Saur Sepuh yang pernah akrab di era tahun 1980 – an.

Lagi

PROBOLINGGO KOTA MANGGA ANGGUR DAN SERIBU TAMAN.

10 Komentar

Bagi anda yang biasa melintas di pantura Jawa Timur mulai dari Sidoharjo hingga ke Banyuwangi tentu pernah mampir ke Probolinggo. Siapa pun pasti tahu dimana Probolinggo itu berada. Ya….kota kecil Probolinggo berada di daerah pantura Jawa Timur sebagai kota yang terkenal dengan sebutan Bayuangga. Sebutan ini sehat dengan kundalini reiki dapat setelah berada di Probolinggo dalam kunjungan ke sentra produksi buah mangga dan anggur dimana saat itu angin bertiup cukup kencang di daerah sentra perkebunan ini, membuat dahan-dahan pohon mangga yang siap panen saling bergesekan bergoyang tertiup angin.

Ciri khas Probolinggo sebagai Bayuangga menandakan bahwa daerah yang berangin kencang ini sudah sangat terkenal dengan mangga arum manisnya dan juga buah anggur yang produksi hasil perkebunan ini begitu melimpah membanjiri pasar Pulau Jawa hingga ke Jakarta. Musim petik mangga Probolinggo biasanya terjadi di bulan Oktober. Harga jual mangga ini cukup mahal tetapi Anda yang berkunjung saat panen mangga di daerah ini akan mendapatkan harga mangga sedikit murah karena produksi melimpah ruah dan terdapat di seluruh pasar tradisional.

Lagi

BUDIDAYA IKAN BALITA.

4 Komentar

Usaha budidaya ikan biasanya menunggu hasil panen sampai ikan berukuran besar dapat dipasarkan. Tapi berbeda dengan usaha budidaya ikan yang dilakukan sebagian warga desa Cibeber Jawa Barat ini. Bagi warga Cibeber, ikan seukuran ibu jari saja sudah dapat dijual ke pasar-pasar dan restoran di sekitar Cianjur. Tentu saja ikan kecil ini diolah dan disajikan dalam bentuk kemasan. Berikut ini laporan Rekan Nursidik dari Televisi Jawa Barat dalam segmen asli Indonesia.

Usaha budidaya ikan balita di jalan Didi Prawira Kusuma, desa Cibeber Cianjur Jawa Barat oleh pemilik usaha sengaja membudidayakan anak-anak ikan mas dan nila untuk langsung dijual ke pasar tradisional maupun ke restoran dalam bentuk kemasan siap saji. Usaha ini tidak harus menunggu panen ikan yang memakan waktu berbulan-bulan sejak bibit ditaburkan ke kolam penampungan.

Lagi

PASAR GEDE SOLO.

2 Komentar

Sangat malu jika kita mengaku orang Solo tetapi tidak tahu apa itu arti Pasar Gede. Barangkali sahabat sehat dengan reiki yang belum pernah ke Solo tidak tahu apa arti judul postingan kali ini. Baiklah agar sahabat semua tidak penasaran akan sehat dengan reiki jelaskan arti Pasar Gede itu. Postingan terdahulu saya telah mampir ke Kampung Kauman untuk melihat produksi kain batik, maka perjalanan pun dilanjutkan untuk menengok Pasar Gede.

Saya melangkahkan kaki sejauh setengah kilometer dari Kampung Kauman menuju utara masuk Pasar Gede. Letak Pasar Gede memang dekat sekali dengan Kampung Kauman, masih di wilayah Solo Timur. Orang Solo mengenal Pasar Gede sebagai Pasar Hardjanagara sebagai pasar tradisional terbesar di Solo setelah Pasar Klewer.

Lagi

MALAM HARI DI PASAR KABANGAN SOLO.

3 Komentar


Salah satu Pasar Tradisionil yang sehat dengan kundalini reiki datangi di minggu ketiga Januari 2011 ini adalah Pasar Kabangan di daerah Solo Barat tepatnya berada di Utara Balai Kampung Laweyan. Sesuai dengan namanya yang agak aneh ditelinga orang luar Solo sebenarnya pasar ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Lokasi tepatnya pasar ini ada di Kelurahan Sondakan berada di sudut persimpangan antara Jalan Perintis Kemerdekaan dengan Jalan Dr. Rajiman.

Menurut ceritera dari warga Kampung Klaseman Laweyan yang sudah sepuh, pasar ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sewaktu pemerintahan Paku Buwono IX pasar ini disebut Pasar Laweyan. Disebut demikian karena pasar ini berada di utara Kampung Laweyan yang lebih dikenal dengan Kampung Batik Laweyan saat ini. Letak persisnya berhadapan dengan Balai Kelurahan Laweyan sebelum kepindahan dari Kantor Kelurahan Laweyan lama di Jalan Sidoluhur.

Lagi