Beranda

OKSITOSIN KENDALIKAN PERILAKU SEKSUAL TIKUS BETINA.

3 Komentar

Sekelompok sel otak ( neuron ) pada korteks prefrontal di otak bagian depan yang merespons hormon oksitosin merupakan pengendali perilaku seksual tikus betina. Jika neuron itu dimatikan, hormon oksitosin tak akan direspons. Akibatnya, tikus betina tak tertarik lagi pada pasangan seksualnya.

Jika neuron dimatikan dan suplai oksitosin dihentikan, tikus betina akan kehilangan minat kawin selama masa birahi atau masa aktif seksual. Namun, selama masa birahi itu, tikus betina tetap berperilaku sosial aktif  terhadap tikus jantan. Itu menunjukkan oksitosin mengatur beberapa korteks yang berbeda.

Lagi

GEN TERKAIT KECERDASAN TERIDENTIFIKASI.

Tinggalkan komentar

Sekelompok ilmuwan internasional yang dipimpin peneliti dari King’s College London mengidentifikasi gen penentu ketebalan zat abu-abu pada otak yang terkait dengan kecerdasan. Penelitian yang dimuat di Molecular Psychiatry itu bisa membantu ilmuwan memahami mekanisme biologi yang melatarbelakangi gangguan kecerdasan.

Mereka meneliti cerebral cortex, lapisan terluar dari otak manusia. Bagian ini dikenal sebagai zat abu-abu dan berperan penting dalam proses mengingat, perhatian, kesadaran perseptual, pemikiran, bahasa,dan kesadaran. Tim King’s College menganalisis contoh DNA dan hasil pemindaian MRI dari 1.583 remaja sehat berusia 14 tahun.

Lagi

PENYEBAB DISLEKSIA DITEMUKAN.

6 Komentar

Selama ini hipotesis pemicu disleksia atau gangguan kemampuan belajar yang membuat seseorang kesulitan membaca atau menulis secara benar, adalah representasi bunyi  yang salah di otak. Penelitian psikolog klinis dari Universitas Katolik Leuven, Belgia, Bart Boets, dan rekan menggunakan citra otak orang disleksia menunjukkan, representasi bunyi dasar di otak orang disleksia sama lengkap dan kuat dengan orang yang tidak mengalami disleksia.

Yang membedakan, kata Boets kepada Livescience Kamis ( 5/12 ), adalah interkoneksi otak orang disleksia buruk, terutama di bagian otak yang disebut daerah Broca, yaitu di lobus frontal otak yang mengolah pengucapan dan di bagian korteks pendengaran kiri dan kanan. Hasil penelitian yang dimuat di jurnal Science ini menunjukkan, penyebab disleksia adalah koneksi yang lemah yang membuat kemampuan membaca atau berbicara orang disleksia buruk.

Sumber : Livescience / MZW.