Apakah ada hubungan antara karantina wilayah dan perlengkapan peranti seks? Entahlah. Namun, para pemilik toko perlengkapan seks di Bogota, ibu kota Kolombia, mencatat lonjakan pembelian perlengkapan itu saat kebijakan wilayah.

” Terjual habis! ” demikian tulisan yang ditempel Gerson Monje, salah satu pemilik toko penjual perlengkapan itu di Bogota, pada separuh barang dagangannya. ” Penjualan melonjak pada hari keempat karantina, ” ujar Monje.

” Naik 50 persen. Orang-orang berada di rumah. Mereka bersama partner atau sendirian butuh bersenang-senang. ”

Meski diberlakukan karantina hingga 27 April, penjualan perlengkapan seks tetap berlangsung secara daring. Enam toko perlengkapan seks daring di Kolombia juga mencatat lonjakan penjualan. Bali Seks Store di Medellin, misalnya, membukukan lonjakan penjualan hingga 140 persen.

Adriana Marin, pekerja di toko seks Sexo Sexido, membersihkan dan mendisinfeksi produk alat bantu seks dalam stok, di tengah wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Bogota, Kolombia 10 April 2020. REUTERS / Luisa Gonzalez

Sementara sebagian besar bisnis Kolombia menderita selama lima minggu karena toko tutup yang dimaksudkan untuk mengekang penyebaran virus korona, satu industri online telah memanfaatkan bisnis alat bantu seks yang dijual secara daring. ” Penjualan mulai naik pada hari keempat karantina,” kata Monje, yang masih masih memiliki produk yang akan dikirim ke pelanggan di tengah kuncian wabah covid secara nasional di Kolombia. Penjualan naik 50%. REUTERS / Luisa Gonzalez.

Psikolog Carolina Guzman berusaha menjelaskan fenomena itu. Perlengkapan seks, katanya, bisa membantu orang tetap punya semangat meski menjalani isolasi panjang.

” Kolombia memegang pandangan sangat konservatif soal seksualitas dan komunikasi soal itu. Ini saat bagus bagi mereka untuk mencoa rasa keingintahuan mereka serta memahami bahwa membeli dan menggunakan produk-produk itu sebagai hal yang luar biasa, ” ujar Guzman.

Reuters / SAM.