Stres panas dari panas dan kelembaban ekstrem setiap tahun akan memengaruhi daerah-daerah yang dihuni 1,2 miliar orang pada tahun 2100 dengan asumsi emisi gas rumah kaca saat ini. Itu lebih dari empat kali jumlah orang terdampak saat ini. Demikian hasil studi Rutgers yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters.

Stres panas disebabkan ketidakmampuan tubuh mendinginkan dengan benar lewat keringat. Suhu tubuh bisa naik cepat hingga merusak otak dan organ vital lain. Stres panas ditandai ruam, kram, dan kelelahan.

Gelombang panas yang membakar bumi menyebabkan catatan suhu setidaknya tujuh negara di Eropa pada 25 Juli 2019. Stres panas dari panas dan kelembaban ekstrem setiap tahun akan memengaruhi area yang sekarang dihuni oleh 1,2 miliar orang pada tahun 2100, dengan asumsi emisi gas rumah kaca saat ini,   Kredit : NASA Earth Observatory

Meningkatnya suhu bumi di tingkat internasional akan meningkatkan paparan langsung terhadap tekanan panas, yang merusak kesehatan dan kesejahteraan manusia dan lingkungan. Termasuk di sini, pertanian, iklim ekonomi, dan lingkungan. Sebagian besar studi penelitian lingkungan tentang perkiraan tekanan panas sebenarnya terkonsentrasi pada panas ekstrem namun mengesampingkan fungsi kelembaban.

Kenaikan suhu global meningkatkan paparan pada tekanan atau stres panas yang membahayakan kesehatan manusia, pertanian, ekonomi, dan lingkungan. Mayoritas studi iklim fokus pada dampak panas ekstrem, tetapi tak mempertimbangkan peran kelembaban.

” Waspadai dampak ekstrem panas dan kelembaban pada kesehatan, ” kata penulis senior Robert E. Kopp, Direktur Institut Rutgers yang fokus pada ilmu bumi, kelautan, dan atmosfer, Kamis ( 12/3/2020 ).

Sumber : Kilas Iptek / Science Daily / EVY.