Pria yang mengalami ketergantungan pada minuman beralkohol ataupun narkoba 6-7 kali lebih mungkin terlibat kekerasan rumah tangga pada perempuan daripada mereka yang tak kecanduan. Studi baru yang dipublikasikan di jurnal daring PLOS-Medicine itu menganalisis ratusan ribu catatan medis dan data kepolisian dari Swedia selama 16 tahun. Hasil riset juga menemukan kenaikan risiko kekerasan pada pasangan di antara pria dengan penyakit mental meski tak kecanduan minuman beralkohol atau penyalahgunaan obat-obatan.

Profesor Universitas Oxford Seen Fazel, yang memimpin studi, mengatakan, temuan itu menunjukkan, kekerasan rumah tangga bisa dikurangi dengan peningkatan layanan perawatan narkoba dan alkohol serta pemantauan lebih baik pada mereka. ” Program terapi bagi pelaku belum efektif, ” kata Fazel, Senin ( 23/12/2019 ). Riset yang melibatkan para ahli dari Amerika Serikat, Swedia, dan King’s College, London, itu melacak 140.000 pria yang didiagnosis mengalami masalah alkohol atau obat-obatan pada Januari 1998 hingga Desember 2013.

Profesor Universitas Oxford Seena Fazel, yang memimpin penelitian ini, mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dapat dikurangi dengan peningkatan layanan perawatan narkoba dan alkohol serta pemantauan yang lebih baik terhadap para pelanggar.
” Program pengobatan untuk pelaku belum sangat efektif hingga saat ini. Mungkin mencerminkan kurangnya bukti berkualitas tinggi tentang faktor-faktor risiko yang dapat ditargetkan,” kata Prof. Fazel kepada BBC News.

Peneliti mengeksplorasi berapa banyak yang ditangkap karena mengancam, menyerang, atau melakukan pelecehan seksual kepada istri, pacar, atau mantan pasangan. Sekitar 1,7 persen dari pria pencandu alkohol ditahan karena pelanggaran itu atau enam kali lebih tinggi dari populasi pria di usia sama.

Untuk pria dengan soal narkoba, 2,1 persen ditahan atau tujuh kali lebih tinggi dari rata-rata.

Sumber : Kilas Iptek / BBC / EVY.