Di beberapa negara, ada saja kuliner ekstrem, sebagian hanya ditemui di daerah tujuan wisata. Namun, kuliner ekstrem di pinggiran Battambang, Kamboja, bisa ditemui dalam keseharian warga di sana. Kuliner ekstrem itu adalah tikus panggang.

Hewan pengerat yang dibakar di atas arang menjadi yang populer sekaligus murah di area perdesaan Battambang. Tikus bakar kecil harganya 0,25 dollar AS dan yang besar bisa sampai 1,25 dollar AS. Di tahun 1970-an, di bawah kekuasaan Khmer Merah, tikus biasa dimakan untuk bertahan hidup, sama seperti katak, tarantula, dan hewan kecil lain.

Kini, tikus bakar menjadi menu makan siang murah bagi pekerja dan petani. ” Enak, ” ujar Yit Sarin, warga Battambang, saat melahap paha tikus bakar dan memakannya dengan nasi ditemani bir sebagai minuman di kedai pinggir jalan, Kamis ( 15/8/2019 ).

Pelanggan makan tikus bakar di sebuah warung di provinsi Battambang. Tikus yang berkeliaran di lapangan atau sawah ditangkap dan dibakar sebagai suguhan lezat. Foto ini diambil pada 8 Agustus 2019 memperlihatkan seorang lelaki sedang makan tikus bakar di sebuah warung di provinsi Battambang. ( Foto oleh TANG CHHIN Sothy / AFP )

Di provinsi pedesaan Battambang, Kamboja, camilan tikus bakar dibuat sate cukup murah harganya. Satu tusuk sate kecil harganya masing-masing 0,25 USD sedangkan tikus yang lebih besar dapat berharga 1,25 USD. ( Foto oleh TANG CHHIN Sothy / AFP )

Saking enaknya menu tikus bakar, pelanggan kerap berebutan saat menyantapnya. Mereka mengaku daging tikus bakar juga sama lezatnya juga dengan ayam bakar. Foto : AFP

Miturut dia, daging tikus bakar seperti daging ayam dan sapi. Namun, ada juga yang menyebut rasanya seperti daging babi. Tikus bakar biasanya disajikan dengan saus celup dari jeruk nipis, lada hitam, atau cabai.

Penjual tikus bakar, Ma Lis, menyebutkan, tikus yang dijualnya ditangkap di sawah. ” Tikus-tikus ini lebih sehat daripada babi atau ayam, mereka makan akar teratai dan padi, ” katanya.

AFP/ ADH.