Insomnia meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke. Hasil studi terbaru itu dimuat di American Heart Association’s journal Circulation. Menurut Susanna Larsson Ph.D, pemimpin studi itu dan Associate Professor Epidemiologi Gizi dan Kardiovaskular di Karolinska Institutet, Stockholm, Swedia, Senin ( 19/8/2019 ) dalam studi pertama dari jenisnya soal insomnia, Larsson dan tim menerapkan pengacakan Mendelian, teknik memakai varian genetika menghubungkan dengan faktor risiko seperti insomnia.

Menurut penelitian baru dalam Jurnal Sirkulasi American Heart Association,  orang yang menderita insomnia mungkin memiliki peningkatan risiko penyakit arteri koroner, gagal jantung dan stroke. Studi ini menggunaan pengacakan Mendel (MR), yaitu menggunakan penanda genetik untuk menyelidiki apakah faktor risiko dapat menyebabkan penyakit tertentu.

Dalam studi pertama dari jenisnya tentang insomnia, Larsson dan seorang rekan, Dr. Hugh Markus, seorang profesor kedokteran stroke di University of Cambridge di Inggris menerapkan pengacakan Mendelian, teknik yang menggunakan varian genetik yang diketahui terhubung dengan faktor risiko potensial, seperti insomnia, untuk mengurangi bias dalam hasil. Partisipan sebanyak 1,3 juta dengan atau tanpa penyakit jantung dan stroke diambil sebagai sampel dari empat studi dan kelompok publik. Para peneliti menemukan varian genetik untuk insomnia dikaitkan dengan kemungkinan penyakit arteri koroner yang jauh lebih tinggi, gagal jantung, dan stroke iskemik, terutama stroke arteri besar, tetapi tidak pada fibrilasi atrium.

Ada 1,3 juta partisipan dengan atau tanpa penyakit jantung dan stroke dari empat studi publik dan kelompok. Penelitian menemukan, varian genetika bagi insomnia terkait risiko sakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke iskemik lebih tinggi.

” Ini mengidentifikasi penyebab insomnia. Tidur bisa diubah dengan kebiasaan baru dan manajemen stres, ” katanya.

Sumber : Kilas Iptek / Science Daily / EVY.