Seekor ayam jago bernama Maurice akhirnya masih bisa berkokok seperti biasa setelah pengadilan menolak gugatan pasangan tetangga Corinne Fesseau, pemilik Maurice, yang terganggu dengan suara berisik kokoknya. Fesseau mengatakan di pengadilan, Juli lalu, bahwa tidak ada seorang pun yang mengeluhkan bisingnya kokok Maurice selama ini selain pasangan pensiunan yang sedang berlibur di Pulau Oleron itu. Andaikan hakim mengabulkan gugatan, Fesseau akan diberi waktu 15 hari untuk memindahkan ayam jagonya atau membungkamnya agar tidak berisik.

Apabila tidak bisa memenuhi hal itu, perempuan itu akan dijatuhi denda sangat besar. Sejauh ini, upaya Fesseau membuat Maurice agar tidak berisik, termasuk menyelimuti kandangnya dengan kain hitam agar Maurice mengira hari masih gelap, tidak berhasil. Kasus ini dengan cepat menyebar ke seantero Perancis.

Maurice dan pemiliknya, Corinne Fesseau, tinggal di kota pedesaan Saint-Pierre-d’Oréron, di sebuah pulau di lepas pantai barat daya Prancis. Desa ini memiliki populasi sekitar 7.000 orang, banyak di antaranya telah tinggal di pulau itu selama hidup mereka. Namun, semakin lama, mereka berbagi ruang dengan penduduk kota Prancis, yang datang dari kota terdekat, Limoges untuk berlibur di akhir pekan saat liburan musim panas. Tetangga Fesseau sendiri, yang sudah lama pensiun, adalah dua orang urban, merasa terganggu dengan suara kokok Maurice yang keras bunyinya saat sedang menikmati liburan di desa ini. 

Sekitar 140.000 orang menandatangani petisi ” Save Maurice “. Ada juga yang memasang foto Maurice pada kaus bertuliskan ” Let Me Sing “.

Banyak pihak menilai, gugatan atas Maurice itu merupakan bagian dari ancaman lebih luas terhadap warisan kehidupan pedesaan di Perancis. ” Gugatan ini adalah puncak intoleransi, Anda harus menerima tradisi lokal, ” ujar Wali Kota Saint-Pierre-dOleron, Christophe Sueur.

AFP / ADH.