Pemilahan sampah ternyata tidak hanya berkontribusi positif pada isu lingkungan hidup. Di Shanghai, China, kampanye pemilahan sampah telah membantu warga memperkuat relasi sosial mereka. Rekayasa sosial itu dilakukan dengan cara mewajibkan warga membuang sampah di lokasi yang telah ditetapkan dan pada waktu yang telah dijadwalkan.

Mengutip The Beijing News, laman Globaltimes.cn, Minggu ( 30/6/2019 ), mengatakan, saat warga mengikuti aturan itu, mereka memiliki lebih banyak waktu untuk membangun kontak sosial dengan tetangga mereka. Dalam video yang diunggah The Beijing News ditunjukkan, seorang warga menemui tetangganya di stasiun untuk menanyakan apakah tongkol jagung dianggap limbah kering atau basah.

Seorang sukarelawan pemilah sampah di Distrik Hongkou, Shanghai, Cina timur, 24 Juni 2019.  sedang memeriksa sampah di tempat penampungan sementara. Di tempat ini sampah secara akurat dipilah sebagai sampah kering atau basah. [ Foto / Xinhua ]

Pemulung barang bekas utamanya sampah rumah tangga di fasilitas perumahan di Shanghai, sering menjumpai limbah sampah rumah tangga berupa barang elektronik yang sudah rusak. Foto: Alice Yan

Saat ini Shanghai menangani 19.300 ton limbah residu dan 5.050 ton limbah dapur rumah tangga setiap hari, Menurut pemerintah kota Shanghai hanya 3.300 ton barang daur ulang yang dapat dikumpulkan saat ini. Menurut sebuah laporan oleh Biro State Post, di seluruh negeri, industri pengiriman parsel menggunakan lebih dari 13 miliar karung polypropylene, kantong plastik dan kotak kertas serta 330 juta gulungan kaset pada tahun 2016, tetapi kurang dari 20 persen dari ini dapat didaur ulang,

Bahkan, dalam sebuah laporan disebutkan, keluhan warga tentang pemilahan sampah pun telah menyediakan topik pembicaraan baru antarmereka, yang sebelumnya jarang berbicara satu sama lain.

Banyak pengguna media sosial mendukung kampanye itu, dan setuju langkah itu akan menguntungkan negara.

JOS.