Kecepatan meleleh lapisan es di pegunungan tertinggi di dunia, Himalaya, menjadi dua kali lipat dalam 40 tahun terakhir. Hal itu didapat dari perbandingan foto satelit dari CORONA Program Pemerintah Amerika Serikat, bagian program spionase era Perang Dingin, 1969-1972, dengan foto satelit Badan Penerbangan dan Antariksa AS ( NASA ) dan Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang ( JAXA ) 2000-2016. Para peneliti menyimpulkan, perubahan iklim memicu hilangnya lapisan es di Himalaya.

Sebuah studi komprehensif menunjukkan bahwa pencairan gletser Himalaya telah dipercepat secara dramatis sejak awal abad ke-21 dalam 40 tahun terakhir. Melalui pengamatan satelit di seluruh India, Cina, Nepal dan Bhutan, menunjukkan bahwa gletser telah meleleh dan berpotensi mengancam pasokan air bagi orang-orang di bagian hilir di sebagian besar Asia. ” Ini adalah gambaran yang paling jelas tentang seberapa cepat gletser Himalaya mencair selama ini, ” kata penulis utama Joshua Maurer, Ph.D. kandidat di Lamont-Doherty Earth Observatory, Universitas Columbia. Meskipun tidak secara khusus dihitung dalam penelitian ini, gletser mungkin telah kehilangan sebanyak seperempat massa mereka yang sangat besar selama empat dekade terakhir, kata Maurer. Studi ini dimuat di jurnal Science Advances.

Tim peneliti dari Columbia University meneliti 650 glasier di Himalaya sepanjang 2.000 kilometer. Pada 1975-2000, ada 4 miliar ton es di Himalaya hilang per tahun. Studi itu dimuat di jurnal Science Advances.

Joshua Maurer dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Colombia University, AS, Rabu ( 19/6/2019 ), mengatakan, ” Melelehnya es memiliki pola ruang serupa.”

Sumber : Kilas Iptek / BBC / ISW.