Kelumpuhan tidur ( sleep paralysis ) atau biasa disebut ketindihan adalah fenomena umum. Data 2011 menyebutkan, 7,6 persen warga dunia perhan ketindihan minimal sekali seumur hidup. Mereka yang kena stres pascatrauma, panik, dan mutu tidur buruk berisiko lebih tinggi ketindihan.

Walaupun sindrom kelumpuhan tidur tidak berbahaya bagi tubuh, namun sindrom ini dapat memiliki konsekuensi negatif pada kesehatan dan siklus tidur pria atau wanita. ” Saya telah meneliti pasien yang terbangun tujuh kali semalam, dan ini dapat menyebabkan konsekuensi klinis yang buruk,” kata Brian Sharpless, profesor dan kepala departemen psikologi klinis di Washington University.

Kelumpuhan tidur membuat seseorang terbangun dari tidur malam, antara sadar atau mimpi, membuat mereka tak bisa bergerak atau bersuara dan dadanya tertekan, serta mengalami halunisasi aneh. Brian Sharpless, psikolog klinis ahi tidur, Jumat ( 10/5/2019 ), menyebut kelumpuhan tidur akibat gangguan fase tidur rapid eye movements, siklus tidur setelah tidur nyenyak, dan bermimpi.

Pasien dianjurkan memperbaiki pola tidur serta menghindari konsumsi alkohol dan nikotin pada sore hari.

Sumber : Kilas Iptek / Livescience / MZW.