Ini adalah kisah tentang orang yang penuh semangat. Zheng Rongquan adalah siswa senior tunanetra di Universitas Wenzhou, Zheijang, China. Pada November 2018, dia diberi tahu tidak akan diizinkan mengikuti ujian untuk menjadi guru.

Alasannya, dia secara medis dinyatakan tidak layak. ” Saya tahu saya tidak memenuhi syarat untuk lulus ujian medis, tetapi jika saya tidak mengikuti ujian, tidak ada lembaga publik yang akan menerima saya, ” kata Zheng. Ia yakin dirinya memenuhi syarat untuk posisi mengajar.

” Tidak masalah dari pengalaman saya atau penelitian terkait, tidak ada contoh sebelumnya yang dapat membuktikan bahwa orang buta tidak bisa mengajar, ” kata Zheng. Miturut dia, peraturan ketenagakerjaan harus lebih fleksibel. Melihat semangatnya, Federasi Penyandang Cacat China memberinya dukungan, dan Zheng diizinkan mengikuti ujian dalam huruf braille.

Zheng Rongquan, lulusan Universitas Wenzhou yang lahir dengan gangguan penglihatan, telah melamar untuk mengajar di Sekolah Nanjing untuk Tuna Netra. Untuk menjadi guru tunanetra, Zheng Rongquan mengalami penolakan. Aksi penolakan itu akhirnya memicu debat di media sosial tentang jenis pekerjaan yang memenuhi syarat bagi penyandang disabilitas. Fot : Weibo

Zheng membuat berita pada 2015 sebagai orang buta pertama di provinsi Zhejiang yang diterima di universitas reguler melalui ujian masuk perguruan tinggi nasional Cina yang sulit ujian masuknya. Foto: Weibo

Namun sayang, sebagaimana diunggah di laman globaltimes.cn, Minggu ( 14/4/2019 ), peraturan ketenagakerjaan Jiangsu mengharuskan pegawai pemerintah lulus ujian kesehatan. Seorang pejabat dinas pendidikan setempat mengatakan kepada harian Pemuda Beijing bahwa mereka hanya mengikuti peraturan.

Dinas pendidikan setempat memberi tahu cnr.cn bahwa mereka sepenuhnya memahami Zheng dan sangat menghargai semangatnya untuk terus memperbaiki diri. Saat ini Zheng sedang menunggu kabar apakah dia mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya itu, yaitu menjadi seorang guru.

JOS.