Sejumlah ilmuwan di Inggris mengembangkan kecerdasan buatan untuk memprediksi perkembangan dan evolusi sel-sel kanker. Metode ini diharapkan dapat membantu dokter untuk merancang pengobatan dan perawatan pasien kanker dengan efektif. Teknik baru ini dinamakan Revolver alias Repeated Evolution of Cancer.

Metode yang dikembangkan oleh sejumlah ilmuwan di Institut Riset Kanker London, Inggris, bersama tim pola mutasi asam deoksiribonukleat ( DNA ) dalam kanker. Informasi mutasi itu digunakan untuk memprediksi perubahan genetik sel kanker di masa depan.

Seperti apa masa depan layanan kesehatan di dunia di mana kecerdasan buatan ada? Dokter, ilmuwan, dan peneliti sama-sama bekerja tanpa kenal lelah untuk menjawab pertanyaan ini. Karena istilah ‘AI’ diciptakan pada tahun 1956 oleh ilmuwan komputer John McCarthy, perannya selalu berubah. Dari permulaan yang sederhana di tahap awal teknologi komputer hingga yang tampaknya mustahil saat ini, AI selalu berevolusi dan pasti akan terus melakukannya seiring perkembangan waktu.

Hasil studi itu dipublikasikan di jurnal Nature Methods, Jumat ( 31/8/2018 ). Studi dilakukan menggunakan 768 sampel tumor dari 178 pasien kanker paru-paru, payudara, ginjal, dan usus.

Sumber : Kilas Iptek / *MZW