Pemuda yang tinggal di asrama tanpa penyejuk ruangan selama gelombang panas terjadi menunjukkan hasil yang lebih buruk dalam mengerjakan serangkaian tes kognitif dibandingkan dengan pemuda yang tinggal di asrama dengan penyejuk ruangan. Pada tes penjumlahan dan pengurangan, misalnya, pemuda yang tinggal di asrama tanpa penyejuk ruangan nilainya 13,3 persen lebih rendah dibandingkan dengan pemuda yang tinggal di asrama berpenyejuk ruangan.

Joseph Allen, asisten profesor dan co-direktur Pusat Iklim, Kesehatan, dan Lingkungan Global (C-CHANGE) di Harvard Chan School dan salah satu penulis senior studi tersebut mengatakan, “ Di wilayah dunia dengan iklim yang sangat dingin, bangunan dirancang untuk mempertahankan panas. Bangunan-bangunan ini mengalami kesulitan membuang panas selama hari-hari musim panas yang lebih panas yang diciptakan oleh perubahan iklim, sehingga menimbulkan gelombang panas dalam ruangan “.

Hal ini terungkap dalam penelitian terhadap 44 pemuda sehat umur 20 tahunan di Boston, Amerika Serikat, selama 12 hari berturut-turut saat musim panas tahun 2016 oleh peneliti dari Harvard TH Chan School of Public Health. Temuan ini dipublikasikan di jurnal PLOS Medicine pada 10 Juli 2018.

Sumber : Kilas Iptek / ADH.