Virus West Nile pertama ditemukan di pantai timur Amerika Serikat tahun 1999 dan butuh beberapa tahun sebelum menyebar di semua negara. Studi terbaru dipaparkan pada pertemuan Society for Integrative and Comparative Biology di AS menyebut, penyebaran virus lewat gigitan nyamuk itu mendapat bantuan dari polusi cahaya. Burung-burung terinfeksi West Nile terbang dua kali lebih jauh saat terpapar cahaya malam.

Kawanan burung yang terpapar lampu kota lebih mampu menyebarkan penyakit saat sedang bergerombol menatap cahaya di ketinggian atap gedung. Biasanya burung berpijak kabel listrik atau telepon.

West Nile ialah virus bagi burung dan orang bisa tertular lewat gigitan nyamuk dengan gejala demam, diare, serta memicu radang otak. ” Polusi cahaya menyebarkan penyakit, ” kata Jenny Ouyang, peneliti dari University of Nevada, di Reno, yang terlibat studi itu.

Menurut sebuah penelitian yang dipresentasikan di pertemuan tahunan Society for Integrative and Comparative Biology, mengatakan, setelah virus West Nile muncul di Pantai Timur AS pada tahun 1999, lalu menyebar ke seluruh negeri hanya dalam beberapa tahun, membuat ribuan orang menjadi marah dan mengusir kawanan burung robin, gagak, dan burung lainnya. Sebuah studi baru menunjukkan, bahwa virus yang ditularkan nyamuk mungkin berasal dari polusi cahaya. Burung yang terinfeksi dengan West Nile dapat menyebarkan virus tersebut dua kali lebih lama saat mereka terkena cahaya malam.

Sumber : Kilas Iptek / Sciencemag.Org / AIK.