Vaksin mencegah penyakit, cacat, dan kematian akibat penyakit menular. Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ), Juli 2017, menyebut vaksin mencegah 2-3 juta kematian per tahun dengan cakupan vaksinasi global 86 persen. Meski manfaat vaksin terbukti, kelompok penolak vaksin bertahan.

Sejak difteri mewabah, masyarakat kembali diimbau terkait pentingnya imunisasi. Seperti diketahui, tak sedikit orang tua masa kini yang enggan memvaksin anak-anak mereka dengan berbagai alasan. Pertama, karena ikut-ikutan. Mereka tak tahu terkait vaksin, dan hanya mengikuti apa kata orang.  Kedua, masih ada yang menganggap bahwa vaksin yang diberikan pada anak tidak halal atau haram. Ketiga, banyak orang tua yang takut akan efek samping dari vaksinasi tersebut, seperti muncul demam yang disertai kejang. Padahal, pemicu dari kejang bukanlah dari vaksin. Namun, hal tersebut tetap membuat orang tua ketakutan.

Kini, kelompok antivaksin memakai media sosial untuk berbagi informasi antivaksin. ” Media sosial berperan penting menjaga keyakinan kelompok antivaksin, ” kata Naoi Smith, dosen sosiologi di Universitas Federasi Australia yang meneliti kelompok antivaksin, Jumat ( 29/12 ).

Studi pada akun antivaksin terbesar di Facebook dipublikasikan di jurnal Information, Communication and Society, Rabu ( 27/12 ), menunjukkan kelompok antivaksin amat aktif, tulisan diunggah bernada negatif dan umumnya mereka perempuan.

Sumber : Kilas Iptekn / WHO / Livescience / MZW.