Studi tim Imperial College London, Inggris, yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports menunjukkan, zat halusinogen di jamur kotoran sapi ( magic mushroom ), psilosibin, mampu mengatur ulang struktur otak penderita depresi. Psilosibin menyembuhkan depresi dengan melumasi otak sehingga pasien lepas dari siklus gejala depresi. Di otak, psilosibin membuat amigdala ( bagian otak yang memproses emosi takut dan cemas ) kurang aktif dan jaringan mode default ( mengolaborasikan bagian otak berbeda ) jadi lebih stabil.

Magic Mushroom (psilocybin mushroom) lebih dikenal di Indonesia dengan istilah Jamur Tahi Sapi atau Jamur Kotoran Kerbau. Sangat unik karena memakai kotoran sapi sebagai bahan utamanya. Pertama kali booming di Bali dan Jawa, namun sejak Januari 2015 kemarin pemerintah melarang tegas peredarannya. Alasannya? Persis ganja, jamur tahi sapi juga mengandung zat aktif psilosina yang bisa bikin pemakainya berhalusinasi tinggi.

Amigdala dan jaringan mode default ialah area otak yang terlibat saat depresi. ” Otak yang tertekan akan dibungkam dan pengalaman psikedelik ( kondisi mengubah kognisi dan persepsi pikiran ) mengatur ulang otak, ” kata Robin Carhart-Harris, kepada riset psikedelik di Imperial College London, Sabtu ( 14/10 ). Itu memberikan harapan terapi depresi, tetapi perlu riset besar karena uji baru pada 19 orang dengan satu dosis kecil psilosibin.

Di otak, psilosibin membuat amigdala ( bagian otak yang memproses emosi takut dan cemas ) kurang aktif dan jaringan mode default ( mengolaborasikan bagian otak berbeda ) jadi lebih stabil.

Sumber : Kilas Iptek / BBC / MZW.