Citra satelit Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merekam terbentuknya gunung es raksasa yang terpisah dari lapisan es di Larsen C, Antariksa, 10 dan 12 Juli lalu. Gunung es baru itu diperkirakan seberat 1,1 triliun ton air dan ukuran sebesar Negara Bagian Delaware, AS, atau sebesar Pulau Bali. Terpisah nya gunung es itu dilaporkan para peneliti Antariksa di Inggris dan dikonfirmasi dengan satelit Sentinel-1 milik Badan Antariksa Eropa (ESA).

Gunung es seberat satu triliun ton dengan luas 5.800 kilometer persegi terpisah dari Rak Es Larsen C di Antartika. Gunung es tersebut menjadi yang terbesar yang pernah dicatat lepas dari Antartika. Lahan es Larsen C lebih kecil 12% secara luas area dibandingkan ketika sebelum gunung es tersebut retak. Sebuah peristiwa yang menurut para periset telah mengubah lanskap semenanjung Antartika dan meninggalkan lapisan es Larsen C pada tingkat terendah yang pernah ada tercatat.

Gunung es baru, yang kemungkinan akan dinamai A68, luasnya sekitar 2.239 mil persegi. Beratnya lebih dari satu triliun metrik ton. Proyek Midas, yang telah memantau lapisan es Larsen C, melaporkan bahwa pemisahan terjadi di antara tanggal 10 Juli dan 12 Juli. Para ilmuwan mencatat bahwa data satelit NASA terputus.

Keretakan pemicu terpisahnya gunung es itu terdeteksi sejak 1960, tetapi retakan itu tak aktif beberapa dekade, sampai pada 2014-2016 percepatan ketertarikannya naik. Namun, para ahli tidak punya bukti terbentuknya gunung es itu dipicu perubahan iklim. Ketidakstabilan lapisan es di Larsen C diprediksi para ahli sejak lama.

Para ahli, dikutip Livescience, Kamis (13/7), memperkirakan lepasnya gunung es itu tak meningkatkan permukaan air laut global karena lapisan es Larsen C mengambang di atas laut sejak dulu. Menurut ilmuwan University of Swansea dan British Antarctic Survey, Rabu (12/7/2017), terpisahnya gunung es tersebut menimbulkan ancaman bahaya ekstra bagi kapal-kapal di sekitar benua itu saat runtuh.

Sumber : Kilas Iptek / Livescience/MZW.