Pemanasan global mulai mengubah wajah benua beku Antartika. Lumut dan mikroba tumbuh makin meluas di Semenanjung Antartika yang berada dekat ujung Amerika Selatan. Studi pada 2013 yang dipublikasikan di jurnal Current Biology, Kamis ( 18/5 ), menunjukkan perubahan ekologi Antartika itu belum pernah terjadi 50 tahun sebelumnya.

” Sebelumnya hanya teridentifikasi di satu lokasi di ujung selatan Semenanjung Antartika, ” kata Matthew Amesbury  dari Universitas Exeter, Inggris, yang meneliti hal tersebut. Semenanjung Antartika adalah salah satu wilayah yang mengalami pemanasan paling cepat di Bumi. Sejak 1950-an, suhu wilayah itu naik 0,5 derajat celcius setiap satu dekade.

Ternyata tidak semua wilayah Antartika dipenuhi dengan es, ada beberapa bagian yang dipenuhi lumut yang menjadi rumah bagi banyak mikroba daerah yang beriklim ektrim itu. Sekitar 46.000 kilometer persegi atau 1 persen wilayah Antartika bebas dari es. Di masa lalu daerah ini dianggap gurun kutub, tetapi dalam beberapa tahun para ilmuwan menyadari kandungan besar keragaman kehidupan.Para tim peneliti berlomba melakukan identifikasi ke 15 wilayah biologis yang berbeda di Antartika. Hasil penelitian mereka kemudian dilaporkan Diversity and Distributions. Sumber : Berita Lingkungan.


Antartika yang berada di kutub selatan bumi merupakan tempat terdingin di di dunia. Suhu dingin yang ekstrim ini membuat benua ini tidak dihuni manusia. Bahkan hanya sebagian kecil makhuk hidup yang mampu bertahan di sana, seperti jamur, alga, bakteri , dan lumut. Sering luput dari perhatian, pada beberapa waktu terakhir ini para ilmuwan dikejutkan dengan fenomena perubahan es menjadi hijau di Antartika, tempat yang menjadi laboratorium alami raksasa ini.

Lumut tumbuh sebagai respons dari kenaikan suhu. ” Jika kondisi ini terus berlanjut, Semenanjung Antartika akan menjadi tempat yang lebih hijau di masa depan, ” kata Dan Charman, pimpinan studi dari Universitas Exeter.

Sumber : Kilas Iptek / Science Daily / MZW.

Iklan