Darah komodo memiliki senyawa penting yang menawarkan terapi baru luka infeksi. Air liur reptil itu jadi tempat berlabuh banyak tipe bakteri, tanpa memengaruhi komodo. Reptil yang ada di Indonesia itu pnua lebih dari 80 strain bakteri.

Para peneliti di Amerika Serikat, menciptakan versi sintetis dari senyawa antimikroba menggunakan zat dalam darah kadal raksasa asli Indonesia, komodo.  Uji klinis muncul efek yang bisa membantu menyembuhkan luka lebih cepat dan membunuh jenis bakteri yang sering ditemukan pada infeksi.

Monique van Hoek ( kanan ) bekerja di laboratoriom bersama mahasiswa George Mason.

Para ilmuwan dari George Mason University di Amerika Serikat menciptakan senyawa sintesis berbasis molekul di darah komodo dengan aktivitas anti mikroba. Itu memulihkan luka infeksi pada tikus. Studi yang dipublikasikan di npj Biofilm and Microbiomes, seperti dikutip BBC, Selasa ( 11/4 ) menunjukkan, protein itu berpotensi jadi antibiotik baru untuk mengatasi resistensi obat.

Tim periset yang dipimpin Monique van Hoek menemukan, DRGN-1 mengatasi luka infeksi pada tikus, melawan strain bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Stapylococus aureus. Namun, komodo dilindungi dan endemik.

Sumber : Kilas Iptek / BBC / EVY.

 

Iklan