Bagi sejumlah orang semakin ekstrem alam semakin tinggi adrenalin mereka untuk menjelajahinya. Demikian pula wilayah beku Kutub Utara yang menjadi tantangan besar bagi 50 pelari marathon dari seluruh dunia untuk melintasinya, Sabtu pekan lalu. Dengan tubuh dibungkus pakaian khusus anti dingin, tutup kepala, sarung tangan, dan kacamata salju, ke-50 pelari marathon tersebut ditantang menempuh jarak 42,2 kilometer melintasi wilayah beku Laut Arktik dengan start di Barneo Ice Camp.

Mereka berlari sebanyak 12 putaran dengan jalur yang ditandai untuk menyelesaikan jarak tersebut. Di sepanjang jalur lomba, panitia Marathon Kutub Utara 2017 menyediakan sejumlah tenda yang menyediakan minuman hangat, kudapan, dan P3K. Selain udara dingin yang menyengat kulit, pelari juga menghadapi tantangan turunnya salju tipis dan kadang bongkahan kecil serpihan hujan es.

Medan berat bersalju sudah biasa bagi Orang Nepal yang hidup di daerah pegunungan Himalaya. Mereka ikut  meramaikan lomba lari marathon dengan mengantongi posisi 2 dan 3 di lomba lari marathon 2017 di Kutub Utara.

Pelari Polandia Piotr Suchenia melintasi garis pertama dengan waktu 4 jam 6 menit 34 detik untuk memenangkan lomba maraton Kutub Utara 2017.

Di nomor putra, pelari Polandia, Piotr Suchenia, menjadi atlet pertama yang melintasi garis finis dengan mencatat waktu 4 jam, 6 menit, dan 34 detik. Di nomor putri, pelari Perancis, Frederique Laurent, memenangi lomba dengan catatan 6:21:3. ” Secara mental, inilah lomba terberat yang pernah saya ikuti, ” katanya.

Peserta lain menambahkan, secara fisik tidak terlalu buruk, tetapi saya sulit mendapatkan irama berlari di bawah hujan salju, ujar Gareth Evans, salah satu pelari pria. ” Kutub Utara merupakan tempat yang sangat unik untuk berlomba.

Saya bahagia bisa ikut ajang ini, namun sekarang sepertinya pantai Miami lebih nyaman dikunjungi, ” ujar Evans sambil tertawa. Tentu saja, setelah membeku di Kutub Utara, membayangkan hangatnya Pantai Miami adalah sebuah kemewahan.

Reuters / JOY.

Iklan