Mamut berbulu tebal hancur karena penyakit genetika yang menyebabkan kehilangan penglihatan, tak hidup berombongan, dan berbulu mengilat. Hasil studi terakhir itu bisa dipakai untuk upaya konservasi. Kini tersisa 100 cheetah Asia dan 300 gorila gunung.

Jumlah mamut terakhir di Wrangel Island, Laut Arktik, pada 4.000 tahun lalu juga sekitar angka itu. Pemimpin riset, akademisi Rebekah Rogers dari University of California, Berkeley, mengatakan, ” Genom mamut hancur sesaat sebelum punah. ” Ia menyebutkanya sebagai genom mencair di satu spesies.

Mamut yang berbulu tebal itu diduga punah saat zaman es berakhir.

” Mereka ialah mamut pengungsi setelah mamut di daratan besar punah, ” ujarnya dalam jurnal ilmiah Plos Genetics, Jumat ( 3/3 ). Para periset menemukan DNA mamut dari 4.000 tahun lalu, kemudian dibandingkan dengan DNA mamut pada 45.000 tahun lalu.

Sumber : Kilas Iptek / BBC / ISW.

Iklan