Warga Mongolia berbondong-bondong menawarkan harta bendanya, mulai dari uang tunai perhiasan, hingga kuda-kudanya, kepada pemerintah yang harus membayar obligasi negara senilai 600 juta dollar AS, bulan depan.  Pemerintah Mongolia nyaris bangkrut akibat krisis ekonomi yang terajdi menyusul kolapsnya investasi asing, pertumbuhan yang lamban, rendahnya harga komoditas, dan penurunan pertumbuhan di Tiongkok.  Mata uang tugrik kehilangan hampir seperempat nilainya pada tahun lalu.

Krisis ekonomi yang melanda Mongolia ini akibat jatuhnya nilai tukar mata uang Tugrik terhadap dolar AS, perlambatan pertumbuhan di China, dan harga komoditas yang masih rendah. Rakyat Mongolia siap menyumbangkan hartanya berupa uang tunai, perhiasan, emas dan bahkan kuda, untuk membantu pemerintah membayar obligasi (surat utang) sebesar US$600 juta (Rp801 miliar) yang jatuh tempo pada Maret 2017.

Akibat krisis ekonomi yang melanda Mongolia dengan jatuhnya nilai tukar mata uang Tugrik terhadap dolar AS, perlambatan pertumbuhan di China, dan harga komoditas yang masih rendah, membuat  rakyat Mongolia siap menyumbangkan hartanya kepada pemerintah. Bantuan berupa uang tunai, perhiasan, emas dan bahkan kuda, untuk membantu pemerintah membayar obligasi (surat utang) sebesar US$600 juta ( Rp801 miliar ) yang jatuh tempo pada Maret 2017.

Pemerintah Mongolia telah berunding dengan Beijing dan Dana Moneter Internasional untuk proyek bantuan, tetapi investro khawatir dana talangan tak akan turun pada waktunya. Meski warga Monglia juga sedang susah akibat tingginya harga bahan pokok, aliran donasi masyarakat mengalir deras. Perdana Menteri Jargaltulga Erdenebat mengucapkan terima kasih kepada rakyat yang dengan sukarela menawarkan hartanya untuk membantu pemerintah.

Reuters / JOY.

Iklan