Stres meningkatkan risiko penyakit jantung secara menetap. Penyebabnya berada di otak. Studi pada 300 orang yang dipublikasikan di jurnal The Lancet menunjukkan, stres meningkatkan aktivitas di amigdala, otak bagian belakang. Amigdala ialah area otak yang mengolah emosi, seperti rasa takut ataupun marah.

Amigdala mengirim sinyal ke sumsum tulang belakang untuk memproduksi sel darah putih. Lalu, sel darah putih itu masuk ke pembuluh darah arteri, termasuk yang mengarah ke jantung. Stres membuat sel darah putih meradang sehingga menyebabkan serangan jantung, stroke, dan angina atau rasa tak nyaman di dada akibat kekurangan aliran darah ke jantung.

Kadar stres yang tinggi bisa meningkatkan risiko stroke. "Selain faktor risiko tradisional, seperti kadar Kolesterol, tekanan darah, dan merokok, stres juga berkontribusi pada kejadian stroke," kata Susan Everson-Rose, peneliti.

Kadar stres yang tinggi karena beban pekerjaan menumpuk, bisa meningkatkan risiko stroke. “Selain faktor risiko tradisional, seperti kadar Kolesterol, tekanan darah, dan merokok, stres juga berkontribusi pada kejadian stroke,” kata Susan Everson-Rose, peneliti.

Hal itu membuat mereka yang stres berisiko terkena penyakit jantung lebih besar dibandingkan yang tidak stres. ” Mengurangi stres menghasilkan manfaat lebih besar dari sekedar kesejahteraan psikologi, ” kata Ahmed Tawakol, peneliti utama dan profesor kedokteran di Sekolah Kedokteran Harvard, Kamis ( 12/1 ).

Sebagai faktor risiko penyakit jantung dan stroke, stres harus rutin dikontrol. Beban kerja yang berat dan pekerjaan yang tak aman bisa memicu stres kronis.

Sumber : Kilas Iptek / BBC / MZW.

Iklan