Tingginya urbanisasi dan berkembangnya area urban memicu evolusi sejumlah spesies yang mengganggu ekosistem global. Demikian hasil studi multilembaga yang dipimpin Universitas Washington, AS, pada 1.600 kasus perubahan fenotipe spesies, mulai dari perubahan ukuran, tumbuh kembang, hingga perilaku. Perubahan itu hasil perubahan genetika akibat aktivitas manusia, seperti polusi dan pengasaman danau, limbah dari pembangkit listrik, serta dampak pemanasan global.

Meningkatnya area urban seperti permukiman baru terjadi akibat urbanisasi penduduk yang tinggi, memerlukan hunian baru sebagai tempat tinggal.

Meningkatnya area urban seperti permukiman baru terjadi akibat urbanisasi penduduk yang tinggi, memerlukan hunian baru sebagai tempat tinggal. Pembangunan hunian pun meningkat pesat dengan akibat terganggunya ekosistem sejumlah spesies yang semula berada di kawasan yang belum dibebaskan pengembang.

Perubahan spesies itu antara lain waktu reproduksi 65 spesies burung di Eropa barat terganggu akibat pemanasan global, toleransi tanaman pada seng naik akibat menara listrik tegangan tinggi berlapis seng.

” Itu bisa untuk memetakan dampak perubahan spesies bagi ekologi,” kata Marina Alberti, Direktur Laboratoriom Riset Ekologi Perkotaan Universitas Washington, Selasa ( 3/1 ).

Sumber : Kilas Iptek / Sciency Daily / MZW.

Iklan