Penurunan sedikit kadar oksigen di udara bisa jadi semacam tombol penyetelan ulang jam biologis tubuh, satunya agar pulih dari penat terbang atau jet lag. Setidaknya, itu studi terhadap tikus seperti dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism, Kamis ( 20/10 ). Para peneliti, dipimpin Xiangyang, peneliti senior Weizmann Institute of Science di Rehovot, Israel, ingin memahami mekanisme ritme jam biologis.

Mekanisme itu ditemukan pada semua mamalia, tetapi ilmuwan belum tahu pemicunya. Pada sejumlah eksperimen, peneliti mendapati kadar oksigen di sel tikus naik pada malam hari saat aktif, lalu turun siang hari saat istirahat. Peneliti membuat tikus terpapar oksigen berkadar 21 persen ( persentase oksigen di udara yang kita hirup pada tempat setinggi permukaan laut ) secara stabil, lalu dengan oksigen yang awalnya berkadar 21 persen.

Jet Lag adalah gangguan tidur yang disebabkan oleh perjalanan melewati beberapa zona waktu sehingga jam biologis kita menjadi tidak sesuai dengan jam lingkungan tempat kita berada. Jam biologis kita tidak mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan waktu secara mendadak. Perubahan ini biasa terjadi ketika kita menempuh perjalanan jauh pada beberapa zona waktu sekaligus.

Jet Lag adalah gangguan tidur yang disebabkan oleh perjalanan melewati beberapa zona waktu sehingga jam biologis kita menjadi tidak sesuai dengan jam lingkungan tempat kita berada. Jam biologis kita tidak mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan waktu secara mendadak. Perubahan ini biasa terjadi ketika kita menempuh perjalanan jauh pada beberapa zona waktu sekaligus.

Awalnya tidak ada efek, tetapi setelah tikus dibuat dalam kondisi penat terbang ( memajukan jadwal siang hari hingga 6 jam ), efek terlihat. Tikus terpapar penurunan level oksigen menyesuaikan diri dengan jadwal makan, tidur, dan aktivitas yang baru lebih cepat.

Sumber : Kilas Iptek / Livescience / JOG.

Iklan