Dengan teknologi mutasi genetik, sejumlah peneliti Amerika Serikat mendapatkan tikus-tikus dengan kemampuan mengendus super. Ini awal dari target menciptakan generasi baru hewan pengerat yang mampu mengendus narkoba atau bahan peledak. Ekseperimen dilakukan pada dua macam aroma yang dikenal, yakni bahan kimia beraroma manis mirip melati dan aroma mirip pepermint.

seorang peneliti Bioengineer dari Amerika Serikat menggunakan bantuan penciuman tikus untuk mendeteksi peledak. Agar sang tikus dapat membantu manusia dalam pendeteksian bahan peledak maka peneliti yang bernama Charlotte D'Hulst ini merekayasa genetika hewan tersebut. Dengan merekayasa genetika tikus itu, maka hewan laboratorium itu akhirnya memiliki kemampuan penciuman 500 kali lebih baik dibanding tikus normal. Dengan penciuman yang lebih baik tersebut, sang tikus diharapkan dapat mendeteksi letak peledak yang tertanam.

Seorang peneliti Bioengineer dari Amerika Serikat menggunakan bantuan penciuman tikus untuk mendeteksi peledak. Agar sang tikus dapat membantu manusia dalam pendeteksian bahan peledak,  seorang peneliti bernama Charlotte D’Hulst ini merekayasa genetika hewan tersebut. Dengan merekayasa genetika tikus itu, maka hewan laboratorium itu akhirnya memiliki kemampuan penciuman 500 kali lebih baik dibanding tikus normal. Dengan penciuman yang lebih baik tersebut, sang tikus diharapkan dapat mendeteksi letak peledak yang tertanam.

Para peneliti mengembangkan satu rangkaian asam deoksiribonukleat ( DNA ) yang ketika disuntikkan ke nukleus sel telur tikus yang sudah dibuahi akan membuat saraf penciuman tikus lebih peka pada satu aroma tertentu. Hasilnya, tikus-tikus itu mempunyai ketajaman mengendus berkali lipat, seperti publikasi Cell Report, Kamis ( 7/7 ).

” Kami ingin menciptakan tikus pendeteksi bahan peledak dan narkoba, misalnya kokain. Jika kami bisa menemukan reseptor yang teraktivasi kokain, kami bisa menciptakan tikus super pengendus kokain, ” kata peneliti utama, Charlotte D’Hulst, dari Hunter College.

Sumber : Kilas Iptek / BBC / Sciencemag /JOG.

Iklan