Sejumlah peneliti dari Universitas Northwestern dan Rehabilitation Institute of Chicago, Amerika Serikat, mengidentifikasi bagian otak pemicu efek plasebo, berkurangnya nyeri meski pasien diberi obat tanpa bahan aktif. Mereka mengkaji area otak di mind frontal gyrus ( MFG ) sehingga mengindentifikasi responden pil plasebo pada satu pengujian dan bisa divalidasi ( 95 persen benar ) di kelompok plasebo pengujian kedua. Studi itu dipublikasikan di PLOS Biology, Kamis ( 27/10 ).

Dengan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging fungsional (fMRI) juga dapat dilihat bahwa orang yang responsif terhadap plasebo, terdapat penurunan aktivitas otak di daerah yang berperan untuk rasa nyeri. Ternyata efek plasebo tidak hanya mengurangi rasa nyeri yang dilapor oleh pasien, tetapi juga ada penurunan aktivitas di otak yang dapat dinilai dan diukur secara objektif. ezmedicall.com

Dengan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging fungsional (MRI) dapat dilihat bahwa orang yang responsif terhadap plasebo, terdapat penurunan aktivitas otak di daerah yang berperan untuk rasa nyeri. Ternyata efek plasebo tidak hanya mengurangi rasa nyeri yang dilapor oleh pasien, tetapi juga ada penurunan aktivitas di otak yang dapat dinilai dan diukur secara objektif. ezmedicall.com

Para periset memakai pencitraan resonanasi magnetik fungsional ( FMRI ) dipadukan rancangan uji klinik standar demi mendapat penanda neurologis di otak yang tak bias untuk memprediksi hilangnya sakit terkait terapi plasebo pada pasien osteoartisis kronis lutut. ” Jadi, dokter bisa mencari area otak teraktivasi saat nyeri dan memilih obat spesifik, ” kata pengajar di Departemen Fisiologi Universitas Northwestern, Vania Apkarian.

Sumber : Kilas Iptek / JOG.

Iklan