Selama ini, kurikulum matematika dasar dibuat berbasis teori sensitivitas angka, kemampuan bawaan manusia mengenali jumlah berbeda. Namun, teori baru peneliti Kanada menyodorkan teori sensitivitas ukuran, kemampuan manusia membedakan ukuran terus-menerus. Dengan memahami hubungan antara jumlah dan ukuran ( luas, kerapatan, batas ) manusia bisa membuat keputusan lebih cepat dan efisien.

Contohnya, saat mengantre di kasir, sebagian tak hanya memilih antrean berdasarkan penuh tidaknya keranjang belanjaan, tetapi juga ukuran barang. Meski keranjang sama-sama penuh, jika ukuran barangnya besar-besar, antreananya lebih cepat.

Tali Lebovich mengatakan, mengajar matematika menyenangkan, intuitif, dan menyenangkan.

Tali Lebovich mengatakan, mengajar matematika menyenangkan, intuitif. Matematika tak bisa lepas dari ilmu hitung dasar dan mulai dipelajari sejak anak duduk di bangku sekolah dasar.

” Dengan memahami cara otak belajar matematika dan bagaimana manusia memahami angka dan konsep matematika, membuat kita bisa mengajar matematika lebih intuitif dan menyenangkan, ” kata Tali Lebovich dari Laboratoriom Pengetahuan Numerik Universitas Ontario Barat, Selasa ( 1/11 ).

Sumber : Kilas Iptek / Science Daily / MZW.