Sebagian besar mamut atau gajah purba raksasa dan berbulu panjang mati sejak 10.500 tahun lalu. Perburuan oleh manusia dan perubahan lingkungan pemicunya. Namun, sekelompok mamut di Pulau St Paul di Laut Bering, lepas pantai Alaska, AS, punah sekitar 5.600 tahun lalu.

Ketika terjadi perubahan iklim dari zaman Pleistosen ke zaman Pliosen, Bumi mulai hangat. Akibat mencairnya gunung-gunung es, permukaan air laut naik dan menenggelamkan sebagian daratan dan danau-danua air tawar. Karena persediaan air tawar hilang, banyak mamut yang mati karena kehausan.

Ketika terjadi perubahan iklim dari zaman Pleistosen ke zaman Pliosen, Bumi mulai hangat. Akibat mencairnya gunung-gunung es, permukaan air laut naik dan menenggelamkan sebagian daratan dan danau-danau air tawar. Karena persediaan air tawar hilang, banyak mamut yang mati karena kehausan.

Para ahli bisa memperkirakan ukuran dan berat mamut berdasarkan fosil yang ditemukan. Foto by : idnesia.com

Para ahli bisa memperkirakan ukuran dan berat mamut berdasarkan fosil yang ditemukan. Foto by : Kidnesia.com

Berbeda dengan mamut di daratan benua, mamut di St Paul punah karena kehausan. Saat Zaman Es berakhir, Bumi lebih hangat dan memicu kenaikan permukaan air laut. Akibatnya, sebagian daratan St Paul tenggelam dan menghilangkan sejumlah danau sumber air tawar.

” Kekeringan sebulan saja bisa fatal, ” kata Russell Graham dari Universitas Negeri Pennsylvania dikutip BBC, Selasa ( 2/8 ). Sebagai pembanding, gajah modern yang berukuran lebih kecil butuh 70-200 liter air tawar setiap harinya.

Sumber : Kilas Iptek / BBC / MZW.

Iklan