Badan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Anak-anak ( Unicef ) pada 2014 menyebut 80 persen orangtua di dunia memukul anaknya. Miturut Studi Chiki Trends di Amerika Serikat pada tahun yang sama, 76 persen lelaki dan 68 persen perempuan dewasa setuju memukul anak, setidaknya di pantat, agar patuh. Namun, studi lebih dari 50 tahun menunjukkan sebaliknya.

Menurut peneliti lainnya dari Columbia University, Michael MacKenzie, memukul pantat anak kerap dilakukan orangtua karena cara itu dinilai lebih efektif dalam jangka pendek. Itu pula yang menyebabkan perilaku ini sulit diubah.

Menurut peneliti lainnya dari Columbia University, Michael MacKenzie, memukul pantat anak kerap dilakukan orangtua karena cara itu dinilai lebih efektif dalam jangka pendek. Itu pula yang menyebabkan perilaku ini sulit diubah.

Riset ahli ilmu keluarga dan perkembangan manusia Universitas Texas, Austin, AS, Elizabeth Gershoff dan Andrew Grogan-Kaylor, dari Sekolah Kesejahteraan Sosial Universitas Michigan, AS, dipublikasikan Journal of Family Psychology, menunjukkan, anak yang dipukul kian menentang orangtua, berisiko mengalami masalah mental, daan jadi anti sosial.

Livescience, Kamis ( 28/4 ) menyebut, kesimpulan itu dari banyak studi menelaah 160.000 anak dalam lima dekade. Miturut riset terakhir, memukul pantat anak identik dengan anak yang tingkat kecerdasan rendah, agresif, depresi, dan takut berlebihan.

Sumber : Kilas Iptek / MZW.