Peneliti tim Universitas Binghamton, New York, Amerika Serikat, yang dipublikasikan di jurnal IEEE Transactions on Information Forensics and Security menunjukkan, otak manusia memancarkan gelombang otak yang unik setiap melihat gambar tertentu. Dengan algoritman khusus, gelombang otak itu bisa dijadikan metode indentifikasi untuk mencocokkan identitas seseorang atau sidik otak sama seperti sidik jari.

Proses pengambilan datanya relatif sederhana. Saat seseorang melihat gambar tertentu, tiga elektroda yang dipasang di kepala dan dihubungkan  mesin elektroensefalogram ( EEG ) akan menyimpan respons gelombang otaknya dan disimpan dalam basis data sidik otak. Selanjutnya ketika orang itu melihat gambar sama, EEG yang lain akan mencocokkannya dengan data gelombang otak yang ada.

 Ilmuwan di Binghamton University menemukan cara alternatif untuk password, pemindai otak. Sistem yang mereka kembangkan, Brainprint, menggunakan topi electroencephalogram (EEG) dan kemudian menyajikan suksesi 500 gambar kepada pengguna dua gambar per detik. Pemindai Otak Akan Jadi Password Masa Depan (Foto: MNN)


Ilmuwan di Binghamton University menemukan cara alternatif untuk password, pemindai otak. Sistem yang mereka kembangkan, Brainprint, menggunakan topi electroencephalogram (EEG) dan kemudian menyajikan suksesi 500 gambar kepada pengguna dua gambar per detik. Pemindai Otak Akan Jadi Password Masa Depan (Foto: MNN)

Sarah Laszlo , asisten profesor psikologi difoto di laboratorium-nya di Ilmu 4 . Foto oleh Jonathan Cohen.

Sarah Laszlo , asisten profesor psikologi difoto di laboratoriumnya saat menunjukkan tiga elektrode berbentuk helm pada pasien yang menjadi objek penelitiannya. Foto oleh Jonathan Cohen.

Pemimpin penelitian Sarah Laszlo, seperti dikutip suptniknews.com, Selasa ( 19/4 ), mengatakan, kecil kemungkinan sidik otak bisa dicuri. Kalaupun dicuri, pihak berwenang hanya perlu menyetel ulang respons gelombang otaknya denan melihat gambar lain.

Itu keunggulan sidik otak dibandingkan dengan sistem identifikasi berbasis data biometrik yang lain.Meski demikian, penggunaan sidik otak sebagai kata kunci membuka komputer atau telepon pintar masih jauh.

Sumber : Kilas Iptek / Sputniknews / MZW.

Iklan