Kucing corak marmer, marbled banyak terdapat di dataran rendah hutan alam dan kawasan hutan tebang. Penelitian dengan kamera inframerah di delapan kawasan hutan dan dua perkebunan kelapa sawit di Sabah, Malasyia, menunjukkan itu. Laporan ilmiah yang dimuat di PLOS ONE, Rabu ( 23/3 ), itu menyebut, hutan yang telah ditebang pun perlu dikonservasi karena kucing corak marmer bertahan.

Kucing marmer atau dalam bahasa Inggris disebut marbled cat dengan nama latin Pardofelis marmorata, adalah kucing liar dari Asia selatan dan Asia tenggara. Wilayah persebaran kucing hutan ini mulai dari Asia selatan di Nepal dan India, terus ke Asia Tenggara hingga pulau Sumatera dan kalimantan.

Kucing marmer atau dalam bahasa Inggris disebut marbled cat dengan nama latin Pardofelis marmorata, adalah kucing liar dari Asia selatan dan Asia tenggara. Wilayah persebaran kucing hutan ini mulai dari Asia selatan di Nepal dan India, terus ke Asia Tenggara hingga pulau Sumatera dan kalimantan.

Kucing jenis ini amat sulit ditemukan sehingga masuk daftar merah alias hampir terancam pada Uni Internasional untuk Konservasi Alam ( IUCN ) karena ancaman perburuan liar dan hilangnya habitat. Hasil penelitian empat bulan, 19,5 kucing per 100 kilometer persegi ditemukan di Danum Valley Conservation Area.

Di Tawau Hills Park, tujuh kucing per 100 kilometer persegi dan di Tabin Wildlife Reserve, area pembalakan terseleksi dari 1969 hingga 1989,  ada 10 kucing pada luasan sama.” Kucing itu bertahan di hutan yang telah ditebangi, ” kata Andrew Hearn, kandidat pada Wildlife Conservation Research Unit, University of Oxford, Inggris.

Sumber : Kilas Iptek / AFP / ISW.

Iklan