Seorang pria pelari lintas alam asal Colorado, AS, yang Juli lalu memecahkan rekor pelari tercepat di Appalachian Trail, setuju membayar denda 500 dollar AS, atau setara sekitar Rp 7 juta. Denda itu dia bayarkan karena sadar telah melakukan pelanggaran undang-undang Negara Bagian Maine. Pria itu, Rabu lalu, diputuskan bersalah oleh pengadilan karena merayakan kemenangan dengan membuka dan meminum champagne.

Larangan meminum champagne di wilayah terlarang bagi peminuam alkohol harus dipatuhi setiap orang yang ada di tempat itu, tanpa terkecuali si jagoan lari lintas alam tersebut. Pejabat Baxter State Park, yang merupakan lokasi lintasan lari lintas alam sepanjang 24 kilometer dari total lintasan sepanjang 3.508 km yang berakhir di puncak Mount Kathadin ( 1,606 mdp ) menghukum denda Scott Jurek. Sang pelari tangguh,  Jurek juga didenda karena membuang sampah sembarangan, melakukan perjalanan dengan jumlah rombongan yang melebihi ketentuan, dan tentu saja menenggak minuman beralkohol.

Scott Jurek saat tengah melintas di medan berat penuh tanjakan di kawasan jelang Puncak Mount Kathadin.

Scott Jurek saat tengah melintas di medan berat penuh tanjakan di kawasan jelang Puncak Mount Kathadin.

Scott Jurec minum champagne sesaat dinyatakan menang dalam lomba lintas alam sepanjang 24 kilometer. Akibat ulahnya ini, dia didenda 500 dollar AS.

“Dua tuduhan terakhir batal karena Jurek mengakui semua kesalahan itu,” kata pengara Jurec. Sang pelari Jurec merupakan pelari ultramaraton profesional, memecahkan rekor ultrmaraton dari Georgia ke Maine dengan waktu 46 hari, 8 jam, dan 7 menit, Juli lalu. Rekor tersebut lebih tajam tiga jam dari rekor sebelumnya.

Ilustrasi Handining, Jurec Scott kena denda 500 dollar AS lomba lari ultra maraton.

Ilustrasi Handining, Jurec Scott kena denda 500 dollar AS lomba lari ultra maraton.

Appalachian Trail menjadi populer belakangan ini seiring dengan maraknya lomba ultramaraton. Sejalan dengan itu, pengelola merasa khawatir dengan kerusakan alam yang timbul dengan maraknya ajang lomba lari ekstrem tersebut. Pengelola juga khawatir dengan komersialisasi berlebihan terhadap taman nasional.

Reuters / JOY.

Iklan