Setelah bertelur di Taman Nasional Dry Tortugas, Amerika Serikat, penyu tempayan berenang ke timur, menuju perairan Bahama yang kaya akan pakan. Hasil penelitian pada individu penyu yang dipasang pelacak itu membantu menyusun strategi perlindungan menyeluruh terhadap penyu tempayan yang terancam punah. Peneliti dari Lembaga Survei Geologi AS ( USGS ) menggunakan satelit untuk melacak populasi penyu tempayan yang terancam punah.

Peneliti dari Lembaga Survei Geologi AS alias USGS menggunakan satelit untuk melacak populasi penyu tempayan yang bersarang di Dry Tortugas, kumpulan kecil populasi di barat laut Atlantik. Pelacakan menunjukkan penyu tersebut banyak menghabiskan waktu di Bahama dan kembali lagi untuk bertelur di Dry Tortugas, 2-5 tahun sekali. Di sana, penyu menetap 3-4 bulan.

penyu sisik ( Eretmochelys imbricata ) , Dry Tortugas National Park , Mei 2008. Foto kredit : Kristen Hart , USGS .

Penyu sisik ( Eretmochelys imbricata ) , dilepaskan Kristen Hart di Dry Tortugas National Park , Mei 2008.

” Upaya kolaborasi konservasi difokuskan utnuk melindungi tempat tinggal penyu dan lokasi mencari makan antara wilayah AS dan Bahama, ” kata Kristen Hart, peneliti ekologi di USGS, yang memimpin studi itu, dalam Science Daily, 23 April 2015. Penyu tempayan mulai bertelur saat berusia 35 tahun.

Penyu tempayan di barat laut Atlantika dikategorikan spesies terancam punah, yang dilindungi dari pengambilan di alam. Meski mahal, upaya konservasi menjadi upaya global yang dijalankan.

Sumber : Kilas Iptek / Science Daily / ICH / Kredit Photo : Kristen Hart.