RADIOLOGI.

Beragam jenis peranti komunikasi kian banyak digunakan anak-anak sejak usia dini. Mereka memakai telepon seluler, telepon pintar, atau tablet untuk bermain. Padahal, radiasi dari perangkat itu berisiko tinggi pada kesehatan dan tumbuh kembang anak.

“Anak menyerap gelombang lebih banyak karena kulit dan tulang mereka lebih tipis. Selnya yang bertumbuh juga lebih mudah menyerap gelombang radiasi, ” kata ahli saraf dari Universitas Katolik Atma Jaya, Yuda Turana, di Jakarta, Rabu ( 24/9 ). Untuk itu, orangtua perlu membatasi pemakaian berbagai peranti komunikasi pada anak.

Hasil riset Dr Om Gandhi dari Universitas Utah menunjukkan, penetrasi radiasi pada anak usia 5 tahun memenuhi 75 persen bagian otak. Untuk anak usia 10 tahun penetrasinya 50 persen dan pada orang dewasa 25 persen bagian otak. Sementara penelitian Andras Christ pada 2010 menunjukkan, hipokampus ( pusat memori pada otak ) dan hipotalamus ( pengontrol emosi ) pada anak menyerap 1,6 – 3 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Di jaman teknologi komunikasi modern saat ini, kebutuhan pemakaian telepon tanpa kabel sudah jadi kebutuhan keluarga di Indonesia. Anak pun sudah pintar menggunakan peranti modern seperti telepon pintar atau tablet.

Di jaman teknologi komunikasi modern saat ini, kebutuhan pemakaian telepon tanpa kabel sudah jadi kebutuhan keluarga di Indonesia. Anak pun sudah pintar menggunakan peranti modern seperti telepon pintar atau tablet.

Paparan ponsel berlebihan mempercepat proses degenerasi sel pada anak, termasuk lapisan mielin di otak. Akibatnya, fungsi kognitif anak terganggu dan memicu perilaku agresif. Pengajar dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tiara Aninditha, menjelaskan, ” Anak yang terlalu sering pakai smartphone atau tablet berisiko berperilaku agresif dan impulsif.”

Umumnya, anak-anak memakai telepon seluler atau tablet untuk bermain. Permainan di peranti komunikasi itu berubah cepat. Akibatnya, anak kecanduan, enggan bergaul, dan kurang gerak. Bahkan, anak yang bermain permainan berbau kekerasan, jadi agresif.

Pada umumnya, anak-anak menggunakan tablet atau tablet untuk bermain. Yang perlu kita waspadi sebagai orangtua, adalah sebisa mungkin mengurangi penggunaan tablet saat mereka sedang belajar.

Pada umumnya, anak-anak menggunakan telepon pintar atau tablet untuk bermain. Yang perlu kita perhatikan sebagai orangtua, sebisa mungkin mengurangi anak menggunakan tablet saat mereka sedang belajar.

Pemakaian ponsel berlebihan pada anak juga memicu attention deficit hyperactivity disorder ( ADHD ). Organisasi Kesehatan Dunia alis WHO merilis hasil riset bahwa radiasi dari ponsel disamakan dengan zat karsinogenik, penyebab kanker.  Menurut Yuda, sejumlah riset menunjukkan tumor otak muncul akibat pemakaian ponsel.

Karena itu, sejumlah negara menerapkan aturan terkait dampak buruk radiasi dari peranti komunikasi bagi anak. Lalu bagaimana dengan anak-anak kita di rumah ? Apakah masih diperbolehkan bermain dengan ponsel pintarnya secara berlebihan, atau meyuruh mereka beralih ke permainan tradisional yang mengutamakan gerak di halaman rumah?

Sumber : Kilas Iptek ( AO4 )