The Bridge on the River Kwai, film tentang Perang Dunia II yang dibuat tahun 1957 dan diadaptasi dari novel Perancis berjudul Le Pont de Riviere Kwai karya Pierre Boulle, merupakan kisah fiksi. Sekalipun demikian kisah ini tetap memiliki latar belakang sejarah. Meskipun tak ada sungai bernama Kwai, juga tak ada jembatan yang dibuat dari kayu dan bambu oleh para prajurit Inggris yang menjadi tahanan pada Perang Dunia II.

Kisah itu berdasarkan pada pembangunan jalur kereta api sepanjang 415 kilometer antara Bangkok ( Thailand ) dan Rangoon ( Myanmar ) oleh kekaisaran Jepang dengan memanfaatkan kerja paksa penduduk setempat. Jalur kereta api ini  melintasi jembatan yang berada di atas Sungai Mekong dan beroperasi dari tahun 1943 sampai tahun 1947. Selain penduduk setempat yang dipekerjakan paksa, lebih dari 180.000 warga sejumlah negara di Asia dan 60.000 tahanan Sekutu, turut serta membangun jalur kereta api maut tersebut.

Salah satu adegan film Kwai

Salah satu adegan film The Bridge of the River Kwai.

Sessue Hayakawa dan aktor terbaik Alec Guinness dalam salah satu adegan film River

Sessue Hayakawa dan aktor terbaik Alec Guinness dalam salah satu adegan film The Bridge on the River Kwai.

Alec Guiness in The Bridge on the River Kwai directed by David Lean, 1952.

 Film The Bridge on the River Kwai yang disutradarai David Lean mengarahkan aktor Jepang Sessue Hayakawa dengan aktor David Lean.

Disebut jalur kereta api maut karena kondisi pekerja yang membangun jalur kereta itu banyak yang mati mengenaskan saat bekerja paksa. Kekejaman tentara Jepang sebagai pemicunya saat mengawasi pembangunan jalur rel kereta api, juga beratnya kerja fisik para pekerja paksa telah menyebabkan tewasnya sekitar 90.000 warga asal Asia dan sekitar 12.000 tahanan Sekutu. Selain itu kondisi kehidupan yang ganas, kelaparan, dan munculnya penyakit, turut memperburuk situasi para pekerja di tengah tekanan tentara Jepang yang kejam tak manusiawi.

Menurut situs Geo Week, karya seni yang dibuat sejumlah tahanan perang dengan menggunakan kuas yang dibuat dari rambut, tisu, dan cat pewarna berasal dari tumbuhan dan darah, memberikan gambaran tentang kondisi mengerikan yang dialami para tahanan. Sejumlah lukisan digunakan dalam pengadilan kejahatan perang setelah Perang Dunia II berakhir. Karya seni yang terus abadi menggambarkan, bagaimana perang berdampak pada penyengsaraan rakyat yang tak berdosa, ikut memikul derita karena dipaksa kerja rodi.

Sumber : Geo Week / Foto Colombia Picture.