Pembangunan, perubahan iklim, dan kondisi sosio-ekonomi terus mengubah pemanfaatan lahan di seluruh dunia. Peta terbaru tentang sistem pemanfaatan lahan yang diciptakan Helmholtz Centre for Environmental Research di Leipzig, Jerman, membantu penelitian tentang dampak terhadap lingkungan.

Bersama para peneliti dari dua universitas besar di Jerman, pusat riset tersebut memilih data dari 30 faktor berbeda, mengolah lebih dari satu juta data. Mereka mengidentifikasi dan memetakan 12 pola dasar ( archetype ) sistem lahan yang menggambarkan intensitas pemanfaatan lahan secara rinci.

Miturut situs Geo Week minggu ini, salah satu pola dasar adalah sistem panen intensif, misalnya, terkait dengan 5 persen permukaan daratan, meliputi Eropa Barat, bagian timur Amerika Serikat, dan bagian timur Australia.  Pola dasar ini dibentuk oleh iklim yang sedang, panen besar, dan penggunaan pupuk secara masif. Hal itu menunjukkan besarnya penanaman modal, tetapi produk domestik bruto yang rendah.

Peta dunia yang membagi menjadi lima benua, yitu Eropa, Asia, Australia, Afrika, Amerika, dan Antartika.

Peta dunia yang mencakup enam benua, yaitu Eropa, Asia, Australia, Afrika, Amerika, dan Antartika.

Ada sejumlah kejutan yang ditemukan dalam analisis pusat riset tersebut, khususnya terkait dengan China , yang memiliki lima pola dasar berbeda. Data menunjukkan intensitas pemanfaatan lahan di sejumlah wilayah di China mirip dengan yang ditemukan di Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Pola dasar lainnya adalah, hutan yang terdegradasi/sistem lahan pertanian, umumnya ditemukan di negara tropis dan sejumlah wilayah yang memiliki tingkat erosi tanah yang tinggi. Penerapan kontrol terhadap erosi di wilayah-wilayah tersebut bisa meningkatkan panen dan keuntungan ekonomi tanpa perlu merusak lingkungan.

Sumber : Geo Week.