Sebelum era 1900 – an, serigala hanyalah predator alami bagi anjing hutan. Oleh karena itu serigala membantu pengendalian populasi anjing hutan. Akan tetapi, setelah era 1990 – an, manusia membantai serigala dari wilayah Amerika Utara. Hal ini memicu persebaran anjing hutan.

Kemampuan hidup di berbagai iklim, makanan variatif, dan tingkat reproduksi yang subur membantu anjing hutan bermigrasi ke seluruh penjuru benua. Di wilayah urban, sebagaimana dirilis situs GeoWeek, anjing hutan tidak banyak diburu. Akibatnya aning hutan merupakan ancaman bagi binatang piaraan dan anak-anak.

Ajag alias anjing hutan rakus akan makanan unggas, rusa, ular, rubah, tikus, kelinci, burung, katak serangga. Ia juga makan buah, sayur dan sampah. Anjing hutan ( Canis latrans ) rata-rata berbobot antara 7,5 kg dan 9,3 kg.

Ajag alias anjing hutan rakus akan makanan seperti unggas, rusa, ular, rubah, tikus, kelinci, burung, katak serangga. Ia juga makan buah, sayur dan sampah. Anjing hutan ( Canis latrans ) rata-rata berbobot antara 7,5 kg dan 9,3 kg.

Terlebih lagi, persilangan anjing hutan dengan serigala dan anjing piaraan menghasilkan blasteran yang berpotensi menjadi lebih berbahaya dari pada anjing hutan murni. Peranakan anjing hutan dengan anjing piaraan menghasilkan blasteran coydog yang mencampurkan naluri pemangsa alami dengan naluri lebih jinak dalam berinteraksi dengan manusia.

Di bagian timur Amerika Utara, anjing hutan yang bersilang keturunan dengan serigala melahirkan coywolf. Coywof berbadan lebih besar. Oleh karena itu lebih berbahaya sebagai pemangsa. Blasteran coywolf diyakini sebagai pelaku serangan terhadap manusia di wilayah urban belakangan ini.

Sumber : Geo Week.