Kelangkaan bahan bakar solar di tanah air dalam minggu ini sungguh memprihatinkan. Banyak pengusaha otobis antar kota mengistirahatkan armadanya karena tidak tersedianya bahan bakar solar untuk menjalankan armadanya. Dalam siaran berita di televisi ataupun situs internet, terlihat antrian kendaraan  mengantri hingga 2 kilometer, menunggu SPBU kembali dibuka menjual solar lagi.

Namun kenyataannya solar tidak ada, entah raib kemana. Apakah solar sudah tidak dijual lagi sehingga kendaraan yang semula menggunakan solar sebagai bahan bakarnya harus berganti suku cadang yang bisa menampung bensin sebagai bahan bakarnya. Kalau solar ada persediaan terbatas dan pembeli juga dibatasi jumlah literannya dan harganya mahal.

Pendek kata  kelangkaan  bahan bakar solar sudah sangat terasa dan adakah solusi mengatasi kelangkaan bahan bakar solar? Pertanyaan itu sedikit terjawab sekalipun harus sabar untuk mencari alternatif pengganti solar. Solusi kelangkaan bahan bakar fosil menemukan kabar baik.

E. coli merupakan bakteri berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 micrometer dan diamater 0.5 micrometer. Banyak industri kimia mengaplikasikan teknologi fermentasi yang memanfaatkan E. coli. Misalnya dalam produksi obat-obatan (insulin, antiobiotik), high value chemicals (1-3 propanediol, lactate). Secara teoritis, ribuan jenis produk kimia bisa dihasilkan oleh bakteri ini asal genetikanya sudah direkayasa sedemikian rupa guna menghasilkan jenis produk tertentu yang diinginkan.

E. coli merupakan bakteri berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 micrometer dan diamater 0.5 micrometer. Banyak industri kimia mengaplikasikan teknologi fermentasi yang memanfaatkan E. coli. Misalnya dalam produksi obat-obatan (insulin, antiobiotik), high value chemicals (1-3 propanediol, lactate). Secara teoritis, ribuan jenis produk kimia bisa dihasilkan oleh bakteri ini asal genetikanya sudah direkayasa sedemikian rupa guna menghasilkan jenis produk tertentu yang diinginkan.

Para peneliti sukses  memodifikasi genetika bakteri Escherichia coli ( E-coli ) sehingga bisa mengubah gula jadi solar. Adalah Profesor John Love, ahli biologi dari University of Exeter, Inggris mengklaim , komposisi kimia bahan bakar  yang dihasilkan E-coli temuan timnya itu, sama persis solar yang dibutuhkan mesin modern.

Karena itu tidak perlu dicampur bahan bakar fosil sebagaimana biofuel dari tebu atau sawit. ” Kami menyebutkan bio-fossil-fuels, ” kata John Love. Dia optimis temuan itu akan jadi solusi menipisnya bahan bakar fosil. Tantangannya, bagaimana meningkatkan produktivitas E-coil yang dimodifikasi itu. ( BBC/AIK/Yalun WP).