Wildlife Conservation Society melepas 19 bayi buaya Siam ( Crocodylus Siamensis ) hasil inkubasi Kebun Binatang Laos, ke alam liar beberapa waktu lalu. Telur-telur buaya itu diperoleh WCS saat survei lapangan di Provinsi Savannakhet. Pelepasan itu untuk meningkatkan populasi spesies terancam punah tersebut ke habitat aslinya.

Di dunia jumlah buaya Siam diperkirakan tersisa 250 ekor. Buaya ini tertekan aktivitas perburuan liar dan pertanian. Seperti dikutip Livescience, 22 Februari 2013, bayi buaya Siam masih terpantau pada area tertentu selama beberapa bulan. Selain diamati, buaya itu juga diberi makanan tambahan.

Buaya air tawar ini menyukai perairan dengan arus yang lambat, seperti rawa-rawa, sungai di daerah dataran, dan danau. Hewan ini berbiak di musim penghujan; buaya betina bertelur 20–80 butir, yang diletakkannya dalam sebuah gundukan sarang yang dijagainya hingga anaknya menetas. Telur-telur itu menetas setelah sekitar 80 hari.

Buaya air tawar ini menyukai perairan dengan arus yang lambat, seperti rawa-rawa, sunga dan danau. Hewan ini berbiak di musim penghujan. Buaya Siam betina bertelur 20–80 butir, yang diletakkannya dalam sebuah gundukan sarang yang dijagainya hingga anaknya menetas. Telur-telur itu menetas setelah sekitar 80 hari.

Buaya Siam dapat tumbuh hingga panjang 3 meter dan tak pernah menyerang manusia. Bayi buaya Siam yang dilepas berukuran 70 sentimeter atau berusia lebih dari 2 tahun. Alex William, ahli biologi konservasi WCS, mengatakan, kesuksesan pelepasliaran buaya itu juga atas keterlibatan komunitas lokal didukung pengelola lahan basah. ( Live Science/ICH ).