Layanan seksual di media cetak dan internet bagi negara yang melegalkan praktek prostitusi akhirnya dicabut juga oleh kubu oposisi Spanyol. Pencabutan ini didasarkan atas pertimbangan resesi ekonomi sehingga pekerja seksual bisa mengiklankan diri di media cetak dan internet. Adalah kubu oposisi sebagaimana dilansir oleh surat kabar Think Spain di Madrid ( 11/6 ) yang mendapatkan persetujuan dari parlemen sehingga rumah bordil, layanan jasa pendamping dan individu yang menjadi pekerja seksual kembali beraktivitas mengiklankan diri.

Namun Partai Rakyat beraliran konservatif yang tengah berkuasa berusaha keras menentang hal ini karena iklan jenis ini melanggar hukum. Apakah karena krisis ekonomi yang tengah melanda kawasan Eropa termasuk Spanyol sehingga peluang mendapatkan pekerjaan susah bagi kaum wanita, lalu membolehkan iklan berbau seks merajalela di internet termasuk surat kabar?  Yah krisis ekonomi di Spanyol tidak memilih korban. Semua terkena dampak krisis termasuk pengurangan jumlah pegawai sehingga banyak yang menganggur.

Prostitusi di Spanyol rupanya kian merajalela. Departemen Luar Negeri Spanyol memperkirakan ada 200.000 hingga 400.000 wanita yang bekerja di pelacuran pada tahun 2010. Sekitar 90% di antaranya kemungkinan besar adalah korban perdagangan manusia.  ( UPI ).

Desakan ekonomi memaksa parlemen Spanyol untuk mencabut larangan iklan layanan seksual di media cetak dan online. Legislasi telah membatalkan larangan yang diajukan oleh pihak oposisi di parlemen, berdasarkan laporan thinkSpain.