Telepon sebagai alat komunikasi manusia modern sudah menjadi alat kebutuhan hidup untuk menyampaikan pesan kepada seseorang atau lembaga dalam hal gawat darurat. Karena begitu pentingnya pesawat telepon maka saat ini setiap orang dalam kegiatan hariannya selalu dibekali alat mungil ini yang disebut dengan telepon genggam yang bisa masuk saku karena ukuran yang kecil dan fleksibel bentuknya. Saran yang cukup simpatik agar setiap orang menelepon dulu sebelum membuat perjanjian agar tidak kecewa jika perjanjiannya itu ternyata tidak direspon dengan baik karena sesuatu hal.

Menelepon menyampaikan pesan untuk membooking kamar hotel apakah sudah dibooking orang lain, meminta keterangan apakah masih ada tempat duduk kosong di dalam pesawat untuk keberangkatan tanggal sekian atau menanyakan administrasi rumah sakit, apakah masih ada ranjang perawatan yang kosong untuk calon pasien, adalah salah satu cara mengetahui sedini mungkin keterangan yang dibutuhkan untuk maksud tersebut. Namun karena tidak tahu adanya peraturan bahwa reservasi alias pemesanan tempat mutlak diperlukan lebih dulu lewat telepon,  seseorang bisa kecewa jika pesanannya ditolak mentah-mentah alias tidak digubris sekali pun pemesanan itu untuk keadaan darurat yang segera membutuhkan pertolongan segera.

Kekecewaan itulah yang dialami Lisbeth Johansson ( 56 ), wanita asal Slagelse Denmark yang terluka karena tertabrak mobil ketika tengah bersepeda ria. Lisbeth ditolak Layanan Kecelakaan dan Gawat Darurat ( A & E ) di Slagelse karena tidak reservasi dulu lewat telepon. Kebijakan ini merupakan aturan baru pihak A & E yang mensyaratkan, jika seseorang ingin mendapatkan layanan A & E, harus mengontak lewat telepon lebih dulu.

Lisbeth yang diantar suaminya Preben, terpaksa ngelus dodo  akan nasibnya yang sial ini. Hanya karena luka yang dialaminya cukup serius, untuk mendapatkan layanan akibat kecelakaan saja harus diperlakukan seperti pengemis yang minta-minta. Karena pasangan suami istri itu tidak membawa telepon genggam, perawat menganjurkan Preben meminjam telepon agar dapat dirujuk ke A & E.

Lisbeth Johansson ( 56 ) asal Slagelse menahan luka di kepala dan bahunya kerena terjatuh dari sepeda yang dikendarainya. Ia jatuh ke aspal karena ditabrak pengemudi mobil yang melaju dengan lamban.

Kalau tidak menelepon jangan harap dapat pelayanan A & E. Lisbeth yang kepalanya luka dan bahu kanannya patah untuk sementara menahan sakitnya. Dan ia lebih sakit hati karena kondisi darurat membutuhkan pertolongan segera, ada pihak yang tidak tanggap karena terbentur aturan baru yang kaku dan tidak manusiawi, sengaja mengulur waktu tidak segera mengurus orang yang sakit karena kondisi darurat.

"Welcome to the A & E, have you made an appointment?" Sudah kah Anda membuat perjanjian lewat telepon dengan A dan E lebih dulu? (Photo: Colourbox)

Singkat kata Lisbeth yang kepalanya terluka dan bahu kanannya patah tak bisa dirawat. ” Sangat memalukan dan saya terkejut sekali dengan peraturan ini, ” ujar Preben kepada Mingguan The Copenhagen Post ( 20/3 ). ” Saya ditelepon pengemudi yang menabrak istri saya dan segera membawanya ke A & E, tapi ditolak gara-gara tidak membuat perjanjian lebih dulu lewat telepon, ” kata Preben menumpahkan kekesalannya.

Peraturan itu tidak fleksibel sama sekali dan membuat orang terluka karena kecelakaan tidak segera mendapatkan perawatan.  Untuk itulah Ketua Region Zealand, Steen Bach Nielsen mengatakan, dia menyesalkan kejadian tersebut.  Pepatah mengatakan sesal kemudian tiada berguna. Tapi apakah aturan baru A & E itu cukup bijaksana diterapkan, jika dalam kondisi darurat seseorang segera membutuhkan pertolongan dan perawatan karena musibah yang tidak diinginkan, ditolak dirawat gara-gara tidak membuat janjian lebih dulu lewat telepon?