Peneliti Pusat Pengobatan Pencegahan Jackson Hole di Wyoming, Amerika Serikat dan peneliti Scripps Clinic Viterbi Family Sleep Centre di California menemukan, konsumsi pil  tidur meningkatkan risiko kematian penggunanya hingga 4.6 kali lebih tinggi dibandingkan yang tidak menggunakan. Rasio kematian pengguna pil tidur mencapai satu orang di antara 16 peminum pil  tidur dalam 2,5 tahun. Yang tidak minum tidur kematiannya 1 orang dari 80 orang.

Peningkatan risiko ini tidak memperhatikan penyakit lain yang diderita peminum obat tidur, seperti jantung, paru-paru, ataupun risiko lain dari konsumsi rokok atau alkohol.  Meski demikian, para peneliti belum menemukan penyebab pasti mengapa peminum pil tidur memiliki risiko kematian lebih tinggi. Jenis obat tidur yang paling banyak digunakan di Inggris adalah temazepam untuk resep dan zopiclone untuk pil tidur umum.

Penyebab lainnya yang membuat wanita tidak bisa tidur di malam hari adalah stres dan daftar pekerjaannya. Ada 18% responden wanita yang mengalami hal itu. Solusinya konsultasi dengan dokter untuk memastikan pil tidur aman dari risiko komplikasi penyakit lain.

Jenis lain yang dikonsumsi  dalam jumlah lebih sedikit adalah zolpidem dan zaleplon. Obat-obat ini seharusnya digunakan dalam waktu singkat disesuaikan  toleransi peminumnya serta menghindari risiko ketergantungan. Pil tidur umumnya mengandung zat penenang yang membuat peminumnya lebih berisiko jatuh, kecelakaan, pola pernapasan berubah selama tidur dan meningkatkan risiko bunuh diri.

Studi lain menunjukkan, konsumsi pil tidur dosis tinggi juga meningkatkan risiko kanker. Meski demikian, Profesor Farmakologi Klinis di Institut Psikiatri, King’s College London mengatakan, peminum obat tidur tak perlu panik atas temuan ini. ” Kita tidak ingin pasien menghentikan pil tidur secara tiba-tiba karena akan memengaruhi insomnia yang dideritanya, ” katanya  kepada BBC, Selasa ( 28/2 ). Pengguna pil tidur perlu konsultasi dengan dokter untuk memastikan keamanan penggunaan obat itu. ( BBC/MZW ).