Tekanan pembangunan dan kurangnya kemampuan beradaptasi membuat jumlah penderita gangguan mental emosional terus membesar. Namun, perhatian pemerintah dan kepedulian masyarakat masih rendah. Padahal kerugian akibat gangguan mental sangat besar.

Riset Kesehatan Dasar 2007 menyebutkan, prevalensi gangguan mental emosional berupa depresi dan cemas pada masyarakat berumur di atas 15 tahun mencapai 11,6 persen. Jika jumlah penduduk pada kelompok umur tersebut tahun 2010 ada 169 juta jiwa, jumlah penderita gangguan jiwa 19,6 juta orang. ” Ini menunjukkan masyarakat hidup dalam emosi dan kondisi kejiwaan bermasalah. Jumlah ini cukup moderat, ” kata Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan, Irmansyah di Jakarta, Jumat ( 10/2 ).

Jika diperluas gangguan kejiwaan pada anak dan remaja, jumlahnya bisa lebih besar lagi. Prevalensi gangguan jiwa tertinggi ada di Jawa Barat sebesar 20 persen. Semakin bertambah umur, jumlah penderita gangguan mental makin besar. Gangguan jiwa lebih banyak dialami mereka yang berpendidikan rendah, yaitu tidak tamat sekolah dasar.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Pusat Kesehatan Mental Masyarakat Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Rahmad Hidayat. Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia sama dengan prevalensi penderita gangguan jiwa di negara lain. Lalu apa sebenarnya penyebab terjadinya depresi pada orang ?

Penyebab depresi dan cemas yang dialami masyarakat sangat kompleks, mulai dari persoalan sosial ekonomi hingga kebijakan pemerintah yang menekan rakyat.  Tekanan itu di antaranya berupa sulitnya mencari penghasilan memadai, kehidupan kota yang semakin  sumpek akibat terbatasnya ruang publik. Lalu perubahan drastis nilai-nilai kehidupan di pedesaan atau masuknya nilai-nilai baru yang memengaruhi keluarga. Masalah lain kebijakan perburuhan pemerintah yang menggaji rendah buruh serta kebijakan pendidikan yang menekan siswa dan orangtua turut menekan warga.

Depresi dalam diri manusia dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti peristiwa besar dalam hidup (perceraian, kematian orang yang dicintai, pindah tempat tinggal, kehilangan pekerjaan dan lain-lain), terkena penyakit berat, serta dampak obat-obatan dan narkoba. Image Source : Anna Gay.

Dampak dari sebuah tekanan yang memicu gangguan mental bisa berbeda pada setiap orang. Inin sangat bergantung kepada ketahanan masing-masing individu menghadapi guncangan jiwa. Beberapa gejala gangguan jiwa antara lain, gangguan tidur, mudah terkejut, cemas berlebihan, sulit berkonsentrasi, sering berdebar-debar, serta gangguan fisik, seperti diare dan sakit perut.

Hubungan suami-istri, orangtua-anak, atasan-bawahan dan antar teman juga bisa menjadi pemicu ganguan kepribadian. ” Kepribadian yang sehat adalah yang mampu mengenal diri, mampu menerima orang lain apa adanya, mampu berempati, bisa menyayangi orang lain, mampu mengendalikan diri, produktif dan luwes, ” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Tun Kurniasih Bastaman.

Untuk pemulihan sebenarnya manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Jika tidak berhasil, masyarakat tidak perlu ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Diharapkan dengan peranan psikolog atau psikiater, persoalan gangguan jiwa pada seseorang baik berat atau ringan dapat dicarikan solusinya. Dokter dapat mencari tahu apakah Anda sudah terkena depresi dan memberikan solusi untuk penanganannya.

Sumber : Lingkungan dan Kesehatan/MZW.