Minggu ketiga di Solo Januari 2012 kemaren,  saya bertemu dengan kakak sepupu dari pihak Ibu di rumahnya yang asri di Desa Banaran Sukoharjo. Dalam perbincangan penuh kekeluargaan, kakak saya ini begitu terlihat pucat sekali wajahnya kendati hari sudah beranjak siang. Wajahnya terlihat letih kurang bersemangat. Dan tiba-tiba dia minta izin sebentar untuk pergi ke belakang.

Tak lama kemudian saya mendengar suara kakak sepupu saya seperti orang sedang ingin memuntahkan sesuatu. Rasanya suara itu sudah cukup akrab di telinga saya dan mirip dengan suara kaum perempuan yang sedang ngidam dengan suara khas-nya ketika dia dinyatakan sedang hamil muda. ” Hoeek…hoeek…hoeek…hoeek…hoeekkkkk, ” begitulah suara yang tidak sedap untuk terus terdengar dan bersumber dari dalam kamar mandi. Tiada lain suara itu adalah suara menahan kesakitan karena asam lambung sedang naik dan mendesak ulu hati.

Kalau suara perempuan yang sedang ngidam alias hamil muda dan sering bersendawa karena memang sudah kodratnya begitu, tidak demikian dengan suara orang yang susah untuk memuntahkan sesuatu yang dirasa pahit di kerongkongan. Ternyata kakak sepupu saya itu sekarang ini sedang terkena maag akut yang luar biasa sakitnya jika rasa pahit sudah menyodok ulu hatinya. Begitu rasa pahit karena asam lambung naik sampai ke mulut lalu dimuntahkan keluar mulut, perut terasa lega dan tidak kembung lagi.

” Maaf saya menahan sakit karena asam lambung naik dan terasa pahit sekali di kerongkongan. Jika sudah bisa saya muntahkan tadi, perut jadi lega. Namun kondisi itu selalu berulang setiap saat. Tidak mengenal waktu. Terkadang siang bisa juga malam hari menjelang tidur, ” katanya sembari memberikan deskripsi bahwa penyakit yang diidapnya itu sudah berlangsung cukup lama sehingga sangat mengganggu aktivitasnya untuk bekerja.

Mendengar penuturannya itu saya langsung teringat kepada diri saya sendiri ketika di tahun awal 1979, saya pun pernah terkena sakit maag akut yang gejalanya mirip dengan yang dirasakan oleh kakak sepupu saya saat ini. Sakit maag justru datang tatkala saya mulai bekerja di mass media televisi Jakarta kala itu. Tentu saja rasa sakit itu sungguh menyiksa dengan keluhan perut perih, mual yang hampir menyerang tiap pagi atau sore hari.

Tembolok ayam kampung yang dibelah dua lalu belahannya direndam dengan air dan dimasak hingga matang.

Akibatnya setiap menunggu jemputan kantor di Jalan Matraman Jakarta Timur atau di Jalan Pramuka Jakarta Timur setiap pagi hari, saya sudah mengantongi  biskuit dan air mineral agar jika rasa mual itu muncul, segera saya telan sepotong biskuit yang lalu digelontorkan dengan seteguk air putih mineral. Jika sudah begitu rasa mual dan perut perih dan disertai rasa pahit akan hilang segera namun hanya untuk sesaat.

Akhirnya entah darimana datangnya pertolongan setelah usaha medis mengatasi penyakit ini tak kunjung reda, mendadak seorang nenek asal Bogor yang menjadi tetangga di Kampung Kayumanis Jatinegara datang menjengukku. Beliau sebut saja Mak Waas memberikan resep jitu atasi maag akut dengan ramuan tradisional, yaitu bahannya mudah didapat dan terkadang oleh penjualnya dibuang begitu saja karena memang organ ini tidak berguna untuk dikonsumsi. Organ apa yang tidak berguna itu kawan?

” Tembolok ayam kampung kan ada di sekitar kita. Organ tempat menampung makanan yang dicocol mulut ayam di tempat kotor ini memang mudah didapat bahkan diperoleh gratis dari penjual ayam potong kampung di dekat rumah, ” kata Mak  Waas kala itu. Organ tembolok ayam jika sudah dibelah menjadi dua akan terlihat banyak berisi butiran pasir lalu dibuang kotorannya.

Kulit tembolok lalu dicuci bersih dengan air dan untuk mengurangi bau amis, cuci dengan air rendaman daun jeruk purut menjelang ditiriskan sebelum nantinya direbus dengan air putih sebanyak 2 liter. Tentu saja untuk mendapatkan tembolok ayam segar setiap hari gampang memperolehnya, mengingat di kawasan  Kebon Kelapa menjadi arena pemotongan unggas ayam.

Maak Waas begitu telaten memberikan resep ini kepada saya. Beliau tidak segan mencarikan tembolok ayam yang syaratnya harus berjumlah 3 buah di pasar Jatinegara atau Pasar Pal Meriam. Begitu tembolok sebanyak 3 buah sudah dibelah menjadi 2 dan dicuci bersih, lalu direbus dengan air putih diberi 4 atau 5 lembar daun jeruk purut atau jeruk nipis. Rendaman air dengan 3 tembolok yang sudah dibelah dan dikeluarkan isinya, terus dibiarkan mendidih airnya hingga tersisa kira-kira tinggal 1,5 gelas dan siap diminum sebagai ramuan atasi rasa mual.

Minum air rendaman 3 buah tembolok ayam memang terasa kesat dan sedikit getir di mulut. Sebaiknya diminum di pagi atau sore hari. Namun dengan keinginan kuat untuk sembuh bebas dari rasa mual terpaksa saya konsumsi ramuan itu setiap hari selama hampir 3 minggu. Ternyata rasa getir air rendaman tembolok ayam yang hilang bau amisnya karena dicampur dengan daun jeruk purut atau nipis, bisa menahan rasa mual untuk tidak lagi mengeluarkan asam lambung yang jika keluar lewat mulut rasanya pahit sekali bagaikan menelan brutowali.

“Akhirnya berkat ketekunan mengonsumsi air rendaman tembolok ayam kampung, saya terbebas dari serangan maag hingga sekarang ini. Dalam perjalanan dinas keluar kota rasa mual itu pun tidak menghantui lagi dibandingkan dengan sebelum mengonsumsi air tembolok ayam, ” tutur saya…sehat dengan kundalini reiki  kepada kakak sepupu yang ingin segera terbebas dari gangguan maag akut itu.

Mendengar penuturan itu, kakak sepupu pun berniat mencoba resep ini dan berjanji untuk mulai mengatur pola hidup sehat alam medis kedokteran. Tentu dibantu terapi reiki kundalini dari saya sekaligus belajar mengendalikan pikiran agar tidak gampang stress. Ya..stres memang menjadi pemicu datangnya rasa mual yang disertai jantung berdebar-debar jika seseorang sudah dihinggapi sakit maag akut.