Ketika menerima penugasan dari pimpinan untuk membuat liputan film dokumenter Lembah Bada di Pedalaman Sulawesi Tengah beberapa tahun lalu, saya belum menjadi praktisi reiki dan rekan kerabat kerja sudah membayangkan akan kesulitan perjalanan menuju daerah itu. Karena itu semua bahan liputan telah kami persiapkan sejak di Jakarta dengan mendatangi perwakilan Pemda Sulawesi Tengah yang ada di Jakarta.

Gayung pun bersambut ketika detail perjalanan sejak Jakarta hingga lokasi tujuan dengan jelas diberikan staf perwakilan pemda Sulteng yang ada di Jakarta. Beliau memberikan skema perjalanan setelah nantinya tiba di Tentena, ibukota Kecamatan Pamona Utara  untuk mencapai Lembah Bada. Jarak terdekat untuk mencapai Lembah Bada adalah dari Tentena di tepi Danau Poso Sulawesi Tengah.

Mengingat medan liputan menuju Lembah Bada harus melalui 2 alternatif perjalanan, maka persiapan pun dilakukan sejak tiba di Palu ibukota Sulawesi Tengah. Alternatif satu dengan menggunakan pesawat yang dioperasikan oleh Misi Gereja untuk rute pedalaman wilayah Sulawesi. Alternatif kedua menggunakan jalan darat menggunakan jeep double gardan. Karena jarak tempuh dari Tentena ke Lembah Bada sejauh 60 kilometer melintasi pegunungan dan hutan lebat pegunungan Verbek, maka kendaraan yang melintas disarankan menggunakan jeep doubel garden.

Perjalanan menuju Lembah Bada pun dimulai ketika jeep doubel gardan sudah parkir di depan hotal Pamona Indah tepi Danau Poso. Semua peralatan liputan sudah dipersiapkan dengan rapi. Jeep pun bergerak meninggalkan Tentena melaju dengan kencang menembus lebatnya hutan di gugusan               pegunungan Verbeek, Molengraf dan Femena. Laju kendaraan sesekali berhenti di tengah hutan lebat karena jalanan ambles dan banyak kubangan selebar bak truk terbuka.

Areal persawahan di Desa Gintu Kecamatan Lore Selatan Lembah Bada. Foto : Bagus Sangaji Riwanto.

Lembah Bada dilihat dari ketinggian Bukit Pegunungan Verbeek. Hamparan sawah, tegalan dan perkebunan kakao terentang di Desa Kolori. Foto : Bagus Sangaji Riwanto

 

Suasana hutan pegunungan Femena yang sunyi menambah nyamannya perjalanan karena di kanan kiri jalan tumbuh pohon besar dan rindang daunnya. Sinar matahari sangat sulit menembus gelapnya hutan ditambah kelokan tajam di mana kanan dan kiri jalan yang dilalui terbentang jurang dalam. Menjelang km 5 arah batas masuk Desa Kolori, Kecamatan Lore Barat, Lembah Bada, jalan yang akan dilalui putus. Badan jalan ambles dan runtuh masuk jurang di sisinya.

Akibatnya kami semua terpaksa turun dan berjalan kaki menuruni sungai untuk mencapai sisi tebing di atas sungai yang menghubungkan jalan menuju Lembah Bada. Semua peralatan kerja kami panggul, perbekalan dan ransel berisi pakaian diangkut menggunakan ojek yang sudah dipersiapkan warga Bada untuk menyambut kedatangan kami. Sedangkan mobil jeep double gardan kembali ke Tentena karena menurut rencana perjalanan pulang ke Tentena dari Lembah Bada menggunakan pesawat carteran, sehingga jeep tidak perlu menunggu lagi di tengah hutan.

Jalanan yang melintasi hutan pegunungan Femena runtuh dan terputus, rombongan terpaksa turun ke jurang untuk mencapai sisi jalan lain yang menuju Desa Kolori. Foto : Bagus Sangaji Riwanto.

 

Setelah bersusah payah menaiki tebing curum, akhirnya sampailah rombongan di seberang jalan yang runtuh di mana Pak Camat dan stafnya telah menunggu sejak tengah hari. Satu persatu rombongan naik ojek diboncengkan staf Kecamatan Lore Barat dan Lore Selatan. Motor trail pun melaju kencang menuruni punggung pegunungan Molengraf. Di kejauhan tampak perkampungan warga Bada membentang di sela-sela persawahan yang menyuguhkan pemandangan indah khas Lembah Bada.

Tradisi Lembah Bada dalam menyambut tamu begitu istimewa. Sekalipun dalam skenario liputan acara itu tidak tertulis dalam naskah, toh penyambutan tetap meriah. Rombongan sudah dianggap sebagai keluarga besar warga Bada yang pergi merantau dan saat ini pulang kampung. Begitulah…kami ini datang dan disambut dengan acara adat Mohuhu Bingka.

Tradisi Mohohu Bingka adalah tradisi warga Lembah Bada dalam menyambut keluarga jauh yang datang menetap atau sekedar berkunjung ke keluarga yang tinggal di kampung.  Penyambutan inilah biasanya dengan memberikan seekor ayam kampung dan beras.  Tradisi ini dilakukan warga bagi siapa saja yang datang mengunjungi mereka. Ini berarti penerimaan tulus untuk menjadi keluarga besar warga Lembah Bada.

Satu persatu rombongan dikalungi bunga khas Lembah Bada yang disematkan gadis kampung yang memakai pakaian tradisional Lembah Bada. Acara menyambut tamu pun diiringi dengan mengunyah sirih dan pinang dan mereguk secangkir tuak yang dilakukan oleh pimpinan adat setempat. Saat matahari sudah mulai beranjak ke peraduan, gelap malam Lembah Bada sudah menyapa, rombongan pun dipersilahkan istirahat sambil menyusun rencana liputan Lembah Bada keesokan harinya.

Lembah Bada sebagaimana lembah lainnya yang ada di Indonesia, merupakan lembah berupa mangkuk yang dibingkai dengan gugusan Pegunungan Verbec, Molengraf dan Femena. Bada mempunyai dua arti yaitu kunyit dan emas. Menurut sejarahnya, dahulu wilayah Lembah Bada banyak ditumbuhi tanaman kunyit. Selain kunyit sungai Leriang yang mengalir di Lembah Bada pun mengandung bijih emas, sehingga banyak warga Lembah Bada yang bekerja mendulang emas di sungai ini.