Akibat bencana bancir yang melanda Thailand sejak Juli 2011 lalu, tekanan politik kepada Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra kian kencang. Dia dituduh tak becus menangani banjir besar di negeri Gajah Putih itu. Namun saat ditanya apakah dia akan mundur, Yingluck menegaskan dirinya akan tetap bertahan.

Sambil mengusap air mata yang terus meleleh saat mengunjungi salah satu lokasi penampungan korban banjir, Yingluck sekali lagi membantah rumor yang beredar bahwa dirinya akan mundur. ” Rakyat Thailand telah mendukung dan memilih saya. Oleh karena itu, saya akan terus bekerja sebaik yang saya bisa dalam menangani banjir ini, ” ujarnya kepada Bangkok Post Kamis ( 10/11 ).

Saya meminta simpati siapa saja bagi mereka yang saat ini tengah berjuang keras melawan banjir. Saya terbuka untuk semua usulan. Saya tidak cengeng lantaran tidak kuat menerima kritik. ” Air mata  saya mengalir bukan karena saya  lemah. Kalau saya lemah tidak mungkin saya datang ke tempat ini, ” ujarnya. Sangatlah normal merasa sedih ketika melihat rakyat Thailand tengah menderita.

PM Yingluck Shinawatra temui korban banjir di Nonthaburi, Thailand (REUTERS/Sukree Sukplang)

Bangkok Post mengutip kritik mantan pesaing Yingluck dalam pemilu lalu, sekaligus mantan PM Thailand sebelumnya, Abhisit Vejjajiva. Dia menyebut rencana pemerintah mengalokasikan dana sebesar 120 milyar bath setara dengan 3,89 milliar dollar AS untuk korban banjir Thailand, rentan untuk diselewengkan. Rencana itu tidak jelas, tidak transparan dan penuh resiko.

PM Yingluck Shinawatra menemui korban banjir di Ayutthaya (REUTERS/Sukree Sukplang )

Jika rencana itu dilakukan dan sumber dananya diperoleh dengan memotong anggaran dari pos lain, seperti pinjaman pendidikan, pelayanan medis gratis, maka pada akhirnya pemerintah akan kembali memungut pajak yang sangat memberatkan rakyat dan pebisnis. Karena uang yang digunakan sudah habis untuk menangani banjir, maka rakyatlah yang harus membayarnya. Rakyat sudah menderita akibat banjir, rakyat pula yang harus bayar pajak.

Sebelumnya pemerintahan Yingluck mengajukan rencana memberi ganti rugi uang bagi para korban banjir. Mereka akan menerima uang sebesar 5000 baht atau setara 162 dollar AS untuk setiap keluarga. Dana itu untuk keluarga yang rumahnya rusak akibat banjir.

Baru dua bulan menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra sudah menghadapi ujian berat. Bersama para pejabatnya, Yingluck harus berpikir keras menghadapi banjir terburuk yang melanda negerinya dalam setengah abad terakhir.

Sumber : AFP/Bangkok Post/VivaNews.